"Bu, i-itu ... Anu ... A-a-anu," Ibu Atun tertawa pelan menunjuk ke arah undangan pernikahan yang berada di tangan Nenek Mirah. Wajahnya khawatir, bukan dalam sesuatu yang buruk, melainkan untuk sesuatu yang terlihat aneh.
Nenek Mirah menoleh ke arah Ibu Atun, lalu mengangkat kepalanya sembari menunjukkan kerutan di kening dan dahinya yang sudah keriput.
"Anu, ..." Ibu Atun melemparkan tatapan heran yang dibalutnya dengan simpul senyuman kepada Nenek Mirah, "... Ibu pegang undangannya kebalik," ucapnya sembari tertawa pelan.
Nenek Mirah berjengkit sembari menatap kertas merah berlipat dengan motif bunga yang ia pegang dengan kedua tangannya, ia balik—posisi depan ke belakang, lalu memicingkan kedua matanya lagi sambil memaju-dan-mundurkan untuk berusaha mencari jarak pandang yang pas un