Sinar matahari sudah cukup condong ke arah timur. Sebuah motor ramping berwarna biru-hitam dengan warna d******i biru sedang melaju dengan elegan di atas jalanan beraspal. Berbelak-belok menyalip seluruh pengguna jalan lainnya di depan. Tak lama kemudian, setelah memasuki sebuah gang kecil, motor ramping itu berhenti tepat di depan rumah berpagar biru.
Nenek Mirah melangkah turun dari motor, "Akbar, Kamu ikut mampir juga, 'kan?" tanyanya kepada seorang lelaki yang memboncengnya. Lelaki itu adalah anaknya—adik Pak Satria.
"Kayaknya aku nggak bisa mampir deh, Bu," jawab Pak Akbar hati-hati, "... soalnya mau balik ke pangkalan, takut ada teman nanti yang nyerobot giliran bawa penumpang, Bu."
Nenek Mirah menggerakkan kepalanya naik turun sembari membuka mulutnya dalam bentuk bulat. Mengelua