"Hati-hati, Pak...." Lala dan Sindi serentak pelan berkata saat ayah mereka melangkahkan kaki dengan perlahan untuk memastikan bahwa Bambang dalam keadaan sadar. Sementara si Bambang masing menggerakkan tubuhnya naik turun mengikuti irama tabuhan kendang yang dipukul pemain alat musik tersebut di atas panggung orkes.
Tangan kanan Pak Didin terulur ke arah bahu Bambang yang berdiri di depan dan membelakangi tubuhnya, "Mbang, ..." Pak Didin mencolek pelan pundak kanan Bambang, "... Bambang." Tapi, sepertinya Bambang masih tidak menyadari kehadiran Pak Didin di belakangnya.
Semakin keras pemain kendang menabuh alat musik di depannya, semakin keras pula hentakan tubuh Bambang mengikuti irama tabuhan kendang tersebut, bahkan saat si pemain kendang menabuh alat musiknya yang berbunyi 'duut', p