Bambang masih tersenyum saat merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dalam loteng. Matanya begitu cerah dan tak terlihat sedikitpun akan mengantuk. Ia sedikit merasa penat, membuatnya memiringkan badannya ke samping kanan, sehingga penglihatannya bertemu pada sebuah jam bundar yang menempel sejengkal di atas cermin dekat jendela yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan.
"Astaga! Aku lupa kalau malam ini mau jemput Anton!" Bambang beranjak bangun dan duduk. Tangan kanannya terulur ke belakang untuk menjangkau sebuah smartphone dan sebuah kunci motor dalam satu raih. Kemudian beranjak berdiri dan melangkah menuju ambang keluar masuk loteng. Saat kaki kanannya hendak mendarat di puncak anak tangga, ia teringat sesuatu yang membuat kaki kanannya kembali ke posisi. Tubuhnya berbalik ke b