Audya melihat Aliana lebih dahulu di antara orang-orang yang turun membawa tas. Kakaknya mengenakan blus sederhana, rambut diikat rendah, dan satu tangan memegang tali tas yang warnanya sudah pudar.
Tidak ada kendaraan mewah. Tidak ada koper besar atau pakaian yang membuatnya tampak berbeda dari penumpang lain. Selama beberapa detik, Audya hanya berdiri sambil mencoba mempertemukan wajah di depannya dengan ingatan yang tersimpan bertahun-tahun.
"Audya?"
Aliana berhenti beberapa langkah darinya. Matanya menelusuri wajah adiknya, lalu turun sebentar pada tas yang dibawa.
"Sudah lama nunggu?"
"Belum. Tadi baru sampai."
Mereka tidak langsung berpelukan. Ada terlalu banyak hal yang belum tahu harus diletakkan di mana. Audya menunjuk tempat kendaraan bisa menjemput, lalu berjalan lebih dahulu setelah memastikan kakaknya tidak meninggalkan barang.
Aliana mengikuti. Bunyi roda koper milik penumpang lain mengisi diam di antara mereka.
"Ibu sudah sarapan?" tanya Aliana ketika menunggu kendaraan.
"Sudah. Ayah juga. Ibu bilang nanti makan lagi bareng kakak."
"Kakak bisa makan nanti saja."
Audya menoleh. "Ibu sudah masak."
Aliana mengangguk, tidak membantah lagi.
Di perjalanan, kakaknya memandangi jalan dengan perhatian yang membuat Audya sadar ada banyak tempat yang mungkin tidak lagi dikenal. Beberapa bangunan berganti, toko lama sudah tidak ada, dan jalan yang dahulu terasa jauh kini dilewati tanpa banyak berhenti.
"Dulu di situ ada tempat jual sepatu," gumam Aliana.
"Sudah pindah."
"Oh."
Percakapan singkat itu membuat Audya sedih tanpa tahu alasan yang tepat. Kota mereka berubah ketika Aliana tidak ada. Begitu pula orang-orang yang menunggunya, meski bentuk perubahannya tidak selalu terlihat dari jendela kendaraan.
Aliana bertanya tentang kampus. Audya menjawab jurusan dan semester yang sedang dijalani, lalu menjelaskan bahwa magangnya akan selesai pekan depan. Dia tidak membicarakan Argantara. Ada terlalu banyak hal dasar yang belum diketahui kakaknya sebelum sampai pada urusan perasaan.
"Kakak senang kamu tetap kuliah," ujar Aliana.
Audya memandang jalan. "Ibu yang banyak mendukung."
"Iya."
Tidak ada pembelaan atau tambahan nasihat dari Aliana. Untuk itu, Audya sedikit lega.
Ketika kendaraan mendekati gang rumah, Aliana merapikan ujung blus. Gerakannya kecil tetapi berulang, sampai Audya akhirnya mengatakan bahwa ibu tidak akan memeriksa pakaiannya.
Aliana tertawa gugup. "Kebiasaan."
Audya membayar perjalanan, lalu turun untuk membuka jalan. Kakaknya sempat hendak mengeluarkan uang, tetapi dia menggeleng dan menunjuk rumah yang sudah terlihat.
"Nanti saja. Ibu sudah di depan."
Dina berdiri di ambang pintu. Beberapa saat dia tampak tidak bergerak, seolah tubuhnya terlambat mengikuti apa yang sudah dilihat mata.
"Bu," panggil Aliana.
Barulah Dina mendekat. Dia memegang wajah putrinya dengan kedua tangan, memandang dari dekat, kemudian memeluknya begitu erat sampai tas di bahu Aliana hampir terjatuh.
Audya mengambil tas itu sebelum menyentuh lantai.
Tangis keduanya pecah tanpa percakapan panjang. Aliana berkali-kali meminta maaf, sedangkan Dina hanya mengusap punggung dan mengatakan bahwa anaknya sudah pulang.
Andira berdiri di belakang pintu toko. Wajahnya terlihat tegang, tetapi dia tidak lagi bersembunyi ketika Aliana menoleh. Kakaknya meraih tangannya, lalu memeluk setelah Andira mendekat dengan canggung.
"Kamu sudah tinggi sekali."
"Kan sudah lama, Kak."
Kalimat itu membuat senyum Aliana goyah. Dia mengangguk dan mengusap bahu adiknya sebelum mengikuti Dina masuk.
Rudi menunggu di ruang tengah. Dina sudah membantunya duduk dengan nyaman sejak tadi, tetapi tidak ada persiapan yang cukup untuk wajah Aliana ketika melihat kursi roda dari dekat.
Langkahnya berhenti. Audya melihat tangan kakaknya menutup mulut, lalu turun lagi seolah dia sedang berusaha menahan reaksi agar tidak melukai ayah.
"Yah."
Aliana berjongkok di hadapan Rudi. Dia meraih tangan ayahnya dan menempelkan ke kening. Bahunya mulai bergetar lagi.
Rudi mengangkat tangan satunya perlahan. Jemarinya menyentuh kepala Aliana, lalu berhenti di sana. Tidak ada teguran. Tidak ada pertanyaan yang harus segera dijawab. Hanya sentuhan yang membuat Aliana semakin sulit mengangkat wajah.
Audya berdiri di dekat meja sambil memegang tas. Selama ini dia membayangkan akan merasa puas ketika kakaknya akhirnya melihat akibat kepergiannya. Kenyataannya, yang muncul justru kelelahan panjang yang seperti menemukan tempat untuk berhenti sebentar.
Dia meletakkan tas di kamar yang sudah disiapkan, lalu mengambilkan air.
Ketika Aliana akhirnya masuk untuk menyimpan barang, dia berhenti di depan lemari. Tangannya menyentuh pintu yang sedikit miring sebelum Audya mengingatkan cara menutupnya.
"Angkat sedikit dari bawah. Kalau langsung didorong, susah."
Aliana menurut. Matanya kemudian menemukan kotak foto yang diletakkan di atas lemari.
"Ini masih ada?"
"Ibu yang simpan."
Aliana mengambil kotak itu dan membukanya pelan. Dia tidak langsung mengomentari isinya. Audya berdiri di pintu, melihat wajah kakaknya berubah saat menemukan benda-benda yang mungkin sudah tidak pernah dipikirkan lagi.
"Nanti dilihat lagi. Ibu menunggu makan," kata Audya.
Aliana mengangguk, menutup kotak dengan hati-hati. Barangnya kembali diletakkan di tempat semula, tetapi kali ini dia tahu di mana harus mencarinya. Audya berjalan ke ruang tengah lebih dahulu, membiarkan kakaknya menyeka wajah sebelum menyusul.
Makan siang berlangsung lebih lambat daripada biasanya. Dina ingin tahu perjalanan Aliana, tempat kosnya, dan keadaan toko tempat bekerja. Aliana menjawab satu per satu. Ada bagian yang masih canggung, terutama ketika ibu hampir bertanya mengapa begitu lama tidak pernah menelepon lalu mengurungkannya.
Audya tidak memaksa percakapan itu dilakukan di meja makan. Hari masih panjang. Mereka tidak perlu menyelesaikan seluruh tahun yang hilang sebelum piring dikosongkan.
Ketika Rudi mulai tampak lelah, Dina mengajaknya beristirahat. Aliana berdiri ingin membantu, tetapi ragu karena belum tahu apa yang biasa dilakukan. Audya menunjukkan tempat handuk kecil dan meminta kakaknya mengambilkannya.
Tugas itu sederhana. Aliana melakukannya dengan sungguh-sungguh, lalu menunggu arahan berikutnya tanpa langsung mengambil alih.
Setelah ayah beristirahat, Audya membawa piring ke dapur. Aliana menyusul dan mengambil kain untuk mengeringkan piring yang sudah dicuci.
Mereka bekerja dalam diam sampai kakaknya berbicara.
"Terima kasih sudah menemani ibu dan ayah selama ini."
Audya mematikan keran. Dia tidak segera menoleh.
"Aku melakukannya karena mereka orang tuaku juga."
"Kakak tahu."
"Aku belum bisa ngobrol sama kakak seperti dulu."
Aliana menurunkan kain. "Tidak apa-apa. Kakak tidak berharap kamu langsung bisa."
Audya akhirnya menatapnya. Wajah kakaknya tampak lelah setelah perjalanan dan tangis sejak datang. Tidak ada jawaban yang bisa membuat semua hal terasa adil hari itu.
"Yang penting setelah kembali kerja, jangan hilang lagi. Jangan cuma baik selama dua hari di sini."
Aliana mengangguk. "Kakak akan tetap menghubungi."
Audya tidak mengatakan percaya. Dia mengambil piring berikutnya, dan Aliana kembali membantu mengeringkan.
Dari ruang tengah terdengar Dina meminta Andira mengecilkan suara televisi agar ayah bisa tidur. Suara rumah yang biasa, hanya sekarang ada satu orang lagi di dapur.
Aliana sudah melewati ambang pintu. Untuk kembali menjadi bagian dari kehidupan di dalamnya, Audya tahu kakaknya masih harus hadir pada banyak hari setelah kunjungan ini selesai.