"Yang ini disimpan di folder mana?"
Audya menggeser kursi agar Karin bisa melihat layar dengan lebih jelas. Rabu pagi itu mereka memeriksa catatan pekerjaan yang akan dikembalikan kepada pegawai divisi setelah masa magangnya selesai.
Minggu depan menjadi minggu terakhir Audya di kantor.
Kalimat tersebut terasa semakin nyata ketika orang lain mulai mempelajari urutan yang selama ini dikerjakannya setiap hari.
"Di sini, Mbak. Yang sudah diperiksa dipisahkan dari yang masih menunggu dokumen. Daftarnya aku taruh di halaman pertama catatan ini."
Karin mengikuti penjelasannya, lalu mencoba mencari satu berkas tanpa bantuan. Ketika berhasil, dia memberi tanda pada catatan dan menanyakan bagian berikutnya.
Tidak semua yang ditulis Audya langsung jelas. Ada singkatan yang hanya dipahaminya sendiri, juga nama berkas yang terlalu mirip. Dia memperbaikinya sambil mendengarkan pertanyaan Karin.
Ternyata merasa sudah rapi tidak selalu berarti orang lain bisa menggunakannya dengan mudah.
"Kalau kamu tidak ada, yang ini harus ditanyakan ke mbak Mayang, ya?" tanya Karin sambil menunjuk pekerjaan yang belum selesai.
"Iya. Aku sudah tulis bagian yang masih menunggu. Sebelum hari terakhir nanti kita periksa lagi."
Karin mengangguk, kemudian menutup catatan. "Ini membantu. Terima kasih."
Audya hampir terlambat menjawab karena tidak menyangka akan mendengar kalimat itu. "Sama-sama, Mbak. Kalau ada yang membingungkan, bilang saja."
Tidak ada pelukan atau permintaan maaf panjang tentang komentar masa lalu. Karin kembali bekerja, dan Audya menyimpan perubahan berkas. Namun percakapan sederhana itu cukup membuatnya merasa keberadaannya tidak hanya diingat karena gosip.
Menjelang siang, Vina mengirim daftar administrasi yang masih perlu dilengkapi. Audya mencocokkannya dengan berkas kampus, menandai bagian yang membutuhkan tanda tangan, lalu menyusun pertanyaan untuk dosen pembimbing.
Dia tidak ingin hari terakhir habis untuk berlari mencari lembar yang tertinggal.
Mayang memeriksa contoh pekerjaan yang akan dibawa sebagai lampiran laporan. Ada satu halaman yang diminta diganti karena keterangannya masih terlalu dekat dengan data asli. Audya menurut tanpa berdebat, membuat contoh baru dengan informasi yang sudah disamarkan sesuai arahan.
Pekerjaan itu terasa berbeda dari mengejar tugas harian. Kali ini dia sedang memilih bagian mana dari pengalaman tiga bulan yang bisa dijelaskan kepada orang lain dengan jujur dan bertanggung jawab.
Audya menemukan satu catatan lama dari minggu pertama. Di bagian bawah, dia pernah menulis pertanyaan tentang tugas yang bisa diminta, tetapi tidak berani menyampaikannya pada hari itu. Tulisan tangannya kecil dan hampir tertutup lipatan kertas.
Dia tersenyum malu membaca ulang. Kalau bisa berbicara kepada dirinya yang dahulu, mungkin ada banyak hal yang ingin dikatakan. Namun gadis yang kebingungan itu juga yang memaksakan diri datang setiap pagi sampai akhirnya menemukan tempat bertanya.
Audya memasukkan catatan tersebut ke map pribadi. Tidak semua hal perlu menjadi lampiran resmi. Sebagian cukup disimpan sebagai pengingat bahwa perubahan tidak selalu terasa ketika sedang dijalani.
Di komputer, dia kembali memeriksa daftar yang disiapkan untuk Karin. Satu dokumen pendukung baru masuk dari bagian terkait dan bisa ditandai selesai setelah dicocokkan. Ada rasa lega setiap kali daftar tunggu berkurang. Dia ingin meninggalkan pekerjaan dalam keadaan yang bisa dilanjutkan dengan jelas, meski tentu tidak semua urusan perusahaan akan berhenti tepat pada hari magangnya berakhir.
Saat makan siang, Jaka menyapanya di dapur.
"Katanya sebentar lagi selesai, Mbak?"
"Iya, Bang. Minggu depan terakhir."
"Cepat juga, ya. Perasaan kemarin masih tanya tempat fotokopi."
Audya tertawa. Dia ingat betul hari itu, juga bagaimana Jaka membantunya ketika hampir semua orang terasa asing.
"Kalau enggak ada abang, mungkin saya masih keliling cari mesinnya."
"Ah, paling tanya yang lain."
Jaka mengatakannya ringan, tetapi Audya tetap ingin menyampaikan terima kasih. Bukan hanya soal mesin fotokopi. Untuk sapaan, bantuan kecil, dan kebaikan yang membuat tempat ini tidak sepenuhnya terasa seperti ruangan penuh orang yang menunggu dirinya salah.
Dia tidak menyebut semuanya sekaligus. Cukup mengatakan bahwa bantuan Jaka waktu pertama datang sangat berarti baginya.
Pria itu tampak sedikit salah tingkah, lalu mengalihkan percakapan pada lauk makan siang. Audya mengikuti sambil tersenyum. Tidak semua ucapan terima kasih perlu dibuat menjadi pidato.
Sore harinya, Argantara datang menemui Mayang. Audya sedang menyusun lampiran dan menyapa seperti biasa. Mereka bertukar satu pandangan singkat sebelum percakapan kembali sepenuhnya pada pekerjaan.
Kali ini Audya tidak merasa kecewa karena tidak mendapat perhatian tambahan. Dia tahu ada sesuatu yang menunggu di luar jam kantor, tetapi sesuatu itu tidak perlu diumumkan melalui setiap gerakan.
Setelah pulang, dia menerima pesan dari Liam yang menanyakan apakah bisa meminta pendapat tentang satu bagian laporan. Audya mengatakan akan membaca setelah makan dan membantu ibu. Liam mengiyakan tanpa menelepon berulang kali.
Rasanya masih sedikit canggung setelah percakapan Sabtu lalu. Namun tidak ada yang berusaha memaksa kedekatan kembali persis seperti sebelumnya. Mereka sedang mencari bentuk pertemanan yang tidak dibangun dari hal-hal yang disembunyikan.
Di rumah, Dina sudah mengeluarkan seprai tambahan untuk Aliana. Andira sedang mengatur buku agar meja tidak penuh ketika kakaknya datang.
"Jangan semua barang dipindah sampai kalian sendiri susah mencari," ujar Audya sambil meletakkan tas.
"Ibu cuma mau rumahnya agak rapi."
"Sudah rapi, Bu. Kakak pulang ke rumah kita. Enggak perlu semuanya dibuat berbeda."
Dina berhenti melipat. Setelah beberapa saat, dia mengangguk dan mengembalikan sebagian barang ke tempat semula.
Malamnya, Aliana mengirim pesan bahwa dia tidak membawa banyak oleh-oleh. Kalimatnya disertai permintaan maaf yang membuat Audya menatap layar cukup lama.
Dia menelepon sebentar setelah menyelesaikan balasan untuk Liam.
"Kak, ibu tahu kakak datang cuma dua hari. Ibu juga enggak menunggu barang."
"Kakak cuma enggak enak. Sudah lama tidak pulang."
"Yang perlu kakak bawa ya diri kakak. Jangan sampai uang perjalanan malah dipakai belanja."
Aliana tertawa kecil, tetapi suaranya terdengar tegang. Audya menanyakan sekali lagi waktu tiba dan memastikan tiket kembali sudah disimpan. Hal-hal praktis lebih mudah dibicarakan daripada rasa takut yang sama-sama mereka dengar di antara kalimat.
Sebelum tidur, pesan Argantara masuk. Dia menanyakan kabar persiapan kedatangan kakak Audya, mengingat cerita yang pernah didengarnya setelah les.
Audya menjawab bahwa Aliana akan tiba Sabtu ini. Setelah itu, dengan sedikit ragu, dia menambahkan bahwa urusan keluarga mungkin membuat akhir pekannya cukup penuh.
Balasan Argantara tidak lama datang.
Temui kakakmu dulu. Rencana kita bisa diatur setelah magangmu selesai dan kamu sudah punya waktu.
Audya membaca kalimat itu sambil menyandarkan punggung. Ada lega karena tidak harus memilih antara menunggu sesuatu yang menyenangkan dan menghadapi urusan rumah yang rumit.
Dia membalas terima kasih, lalu menutup percakapan. Di meja, daftar pekerjaan terakhir masih menunggu. Di rumah, satu tempat tidur sudah siap. Dalam beberapa hari, ada yang akan datang kembali, dan ada tempat yang harus mulai ditinggalkannya.