Liam sudah menunggu ketika Audya tiba di kantin kampus pada Sabtu siang. Kali ini tidak ada laptop terbuka di antara mereka. Audya baru selesai mengurus berkas bersama temannya, sedangkan Liam datang dari rumah setelah mereka sepakat bertemu sehari sebelumnya.
"Makan dulu?" tawar Liam.
"Boleh. Gua belum makan siang."
Mereka memesan seperti biasa. Audya mengambil tempat di dekat kipas angin karena udara terasa panas. Setelah bekerja seminggu dengan ruangan dingin, tubuhnya selalu perlu menyesuaikan lagi dengan tempat yang tidak memiliki pendingin.
Liam menunggu sampai makanan datang sebelum menanyakan hal yang tampaknya sudah disimpan sejak awal.
"Lu sama bang Arga sekarang bagaimana?"
Audya meletakkan sendok. Dia sudah menduga pertanyaan itu akan datang setelah foto dari acara sekolah dibicarakan, tetapi tetap tidak langsung tahu cara menjawab.
"Belum ada hubungan apa-apa."
"Tapi ada sesuatu?"
Audya menatap wajah temannya. Rasanya tidak ada gunanya menjawab terlalu kabur hanya supaya pembicaraan cepat selesai.
"Dia mengajak gua pergi setelah magang selesai. Mau kenal lebih dekat. Gua bilang mau."
Liam diam. Ujung jarinya menggeser gelas, lalu mengembalikannya ke tempat semula.
"Kapan?"
"Pekan lalu."
"Lu enggak cerita."
"Sekarang gua cerita."
Audya mengatakannya tanpa nada marah. Dia sendiri masih menata perasaan selama beberapa hari terakhir. Argantara tidak berubah menjadi orang yang mengirim pesan setiap jam. Mereka tetap bertemu ketika ada pekerjaan atau pelajaran Naura. Sesekali ada percakapan singkat, tetapi tidak ada desakan agar Audya selalu tersedia.
Justru ketenangan itu yang sedang dipelajarinya.
Liam mengambil minumnya, kemudian bertanya apakah Audya benar-benar sudah memikirkan kehidupan Argantara yang berbeda. Pria itu punya anak, perusahaan, dan tanggung jawab yang tidak sama dengan mereka.
"Gua tahu. Makanya enggak langsung bilang hubungan serius atau apa. Baru mau mengenal lebih dekat."
"Gua cuma khawatir lu terlalu cepat senang."
Kalimat itu menusuk sedikit. Bukan karena Liam sama sekali salah, melainkan karena dia terdengar begitu mengenal cara Audya jatuh hati padahal ada bagian besar yang tidak pernah dilihatnya.
Audya menatap nasi di piring sebelum memutuskan berbicara.
"Li, ada yang dulu enggak pernah gua bilang sama lu."
Liam mengangkat kepala.
"Gua pernah suka sama lu. Cukup lama."
Suara kantin tetap berjalan di sekitar mereka. Ada kursi ditarik, piring diletakkan, dan seseorang memanggil penjual minuman. Namun di meja itu, semuanya terasa berhenti.
"Suka?" ulang Liam.
Audya mengangguk. "Bukan cuma sebagai teman."
Liam membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Untuk pertama kalinya sejak Audya mengenalnya, pria itu tampak benar-benar kehilangan kalimat.
"Kenapa lu enggak pernah bilang?"
Audya tersenyum tipis. "Lu selalu cerita tentang Clara. Gua sudah tahu tempat gua di hidup lu. Terus gua juga takut kalau bilang, kita malah enggak bisa temenan lagi."
"Jadi waktu gua cerita..."
"Kadang sakit. Tapi lu enggak tahu. Gua juga yang memilih diam."
Dia tidak mengatakan semua itu untuk menagih balasan. Justru karena sekarang sudah ada cukup jarak, Audya bisa membicarakannya tanpa merasa sedang menyerahkan seluruh kebahagiaannya ke tangan Liam.
Pria itu menunduk. "Gua minta maaf."
"Lu enggak perlu minta maaf karena enggak suka balik. Itu bukan kesalahan."
"Tapi gua sering cerita panjang soal Clara. Bahkan waktu kita ketemu, gua bisa langsung pergi karena dia menelepon."
Audya mengangguk pelan. "Yang itu memang pernah bikin gua kesal. Sebagai teman juga, bukan cuma karena perasaan."
Liam mengusap wajah. Ada banyak kejadian yang tampaknya baru dilihatnya dengan arti berbeda. Audya membiarkan dia memikirkan semuanya tanpa menambahkan daftar panjang tentang setiap kali dirinya terluka.
"Dari kapan?" tanya Liam kemudian.
"Sekitar semester dua. Gua juga enggak ingat tepatnya mulai dari kejadian apa. Tahu-tahu senang saja kalau lu datang, terus sedih kalau lu cerita soal orang lain."
Liam menatapnya lama. "Berarti selama itu gua enggak sadar."
Audya mengangguk. Tidak ada gunanya membuat waktunya terdengar lebih singkat hanya supaya temannya tidak merasa bersalah.
"Gua kira karena kita dekat, gua sudah tahu semua soal lu," ujar Liam.
"Enggak ada orang yang tahu semuanya, Li. Gua juga banyak enggak tahu tentang lu."
Di meja sebelah, seorang mahasiswa tertawa keras. Audya sempat menoleh, merasa aneh karena percakapan penting dalam hidupnya berlangsung di tempat yang tetap sibuk dengan urusan biasa. Dulu dia membayangkan pengakuan seperti ini akan diikuti jawaban yang menentukan segalanya. Kenyataannya, dia justru merasa lega karena tidak lagi menunggu jawaban tertentu.
Liam menarik napas dan mengangguk pelan. Dia tidak mencoba memperdebatkan mengapa Audya bisa menyembunyikan perasaan begitu lama. Untuk pertama kalinya siang itu, pria tersebut hanya mendengarkan tanpa buru-buru mencari kalimat untuk membuat suasana kembali ringan.
"Sekarang?" tanya Liam setelah beberapa saat.
Audya tahu apa yang dimaksud.
"Sekarang gua masih sayang sama lu sebagai teman. Tapi gua enggak lagi menunggu lu memilih gua."
Kalimat itu membuat dadanya terasa lebih lapang sekaligus sedikit sedih. Ada harapan lama yang benar-benar dilepaskan ketika akhirnya disebut dengan suara keras.
Liam menatapnya, lalu mengangguk. Tidak ada pengakuan mendadak bahwa selama ini dia juga menyimpan perasaan. Tidak ada tangan yang meraih untuk menghentikan Audya. Hanya diam yang perlu diberi waktu.
Makanan mereka sudah mulai dingin. Audya mengambil sendok lagi, dan beberapa saat kemudian Liam melakukan hal yang sama.
"Gua belum tahu harus ngomong apa," aku Liam.
"Enggak harus sekarang. Gua juga enggak minta jawaban."
Percakapan berikutnya tidak langsung ringan. Mereka membicarakan magang dengan jeda yang lebih panjang dari biasanya. Namun Audya tidak menyesal. Untuk sekali ini, kecanggungan lahir karena mereka jujur, bukan karena dia menyembunyikan sakit sambil tertawa.
Menjelang pulang, Liam mengatakan bahwa Clara masih belum ingin berpacaran. Dia menyampaikannya singkat, tanpa membawa Audya masuk ke dalam pembicaraan panjang tentang cara membuat gadis itu berubah pikiran.
Audya mendengarkan. Ada simpati, tetapi tidak lagi harapan kecil bahwa penolakan Clara berarti kesempatan untuk dirinya.
"Semoga lu juga bisa tahu apa yang bikin lu nyaman, Li. Jangan cuma menunggu terus kalau itu bikin capek."
Liam tersenyum lemah. "Sekarang lu yang kasih nasihat."
"Sekali-sekali boleh, kan? Biasanya gua cuma jadi pendengar."
Mereka tertawa kecil. Belum sehangat dulu, tetapi cukup untuk membuat perpisahan tidak terasa seperti akhir persahabatan.
Audya memilih pulang sendiri karena arah tujuan Liam berbeda. Sebelum pergi, dia mengingatkan agar percakapan tentang Argantara tidak diteruskan kepada keluarga sebelum dirinya dan Argantara siap menjelaskannya.
"Iya. Itu urusan kalian," jawab Liam.
Di angkutan, Audya membuka pesan dari ibu yang menanyakan apakah dia akan pulang sebelum sore. Dia membalas, lalu menyimpan ponsel.
Untuk pertama kalinya setelah bertemu Liam, kepalanya tidak dipenuhi pertanyaan tentang bagaimana membuat pria itu melihatnya berbeda. Dia sudah dilihat dengan lebih jujur hari ini. Ternyata itu lebih menenangkan daripada terus berusaha menjadi seseorang yang mungkin suatu saat dipilih.