Audya meletakkan ponsel di dalam tas sebelum masuk ke ruang Vina. Sejak pagi dia sudah tiga kali memeriksa percakapan dengan Yuni. Belum ada kabar baru, dan menatap layar lebih lama jelas tidak akan membuat jawabannya datang lebih cepat.
Di ruangan itu sudah ada Mayang dengan beberapa lembar catatan. Vina mempersilakan Audya duduk, lalu menjelaskan bahwa pertemuan tersebut hanya untuk melihat persiapan menjelang akhir magang. Penilaian akhir masih dilakukan setelah seluruh kegiatan selesai.
Audya mengangguk sambil merapikan map di pangkuan.
"Coba ceritakan pekerjaan yang paling banyak kamu lakukan," kata Vina.
Pertanyaan itu sudah dilatih berkali-kali. Namun ketika benar-benar diminta menjawab, Audya tetap membutuhkan beberapa detik untuk menemukan kalimat pertama.
Dia mulai dari tugas yang paling dikenalnya. Menerima daftar, mencocokkan dengan bukti, memisahkan bagian yang belum lengkap, lalu menyerahkan hasilnya untuk diperiksa. Dia tidak menggunakan angka atau nama pihak dari dokumen asli, hanya menjelaskan urutan dengan contoh yang sudah disetujui Mayang.
Pada bagian kesalahan pencatatan, Vina meminta penjelasan tambahan. Audya membuka halaman yang disiapkan dan menunjukkan alasan mengapa perubahan harus memiliki catatan.
Kali ini dia tidak menjawab dengan kalimat yang dihafal. Dia ingat bagaimana rasanya duduk kebingungan ketika dua catatan terlihat sama, juga bagaimana Mayang meminta dokumen awal tetap disimpan.
Pengalaman itu membuat jawabannya lebih mudah keluar.
"Kalau mendapat pekerjaan yang belum dipahami, apa yang kamu lakukan?" tanya Vina lagi.
"Saya periksa dulu bagian yang sudah jelas. Yang belum, saya catat untuk ditanyakan. Kalau langsung menebak, nanti hasilnya bisa terlihat selesai padahal belum benar."
Mayang mengangguk kecil. Audya melihatnya dari sudut mata, lalu kembali memusatkan perhatian pada Vina.
Percakapan beralih ke pengalaman awal magang. Vina menanyakan apakah pengarahan saat pertama datang sudah cukup membantu. Audya sempat diam, teringat kopi, fotokopi, dan waktu panjang ketika tidak tahu harus mengerjakan apa.
"Di awal saya masih bingung harus meminta tugas kepada siapa," jawabnya hati-hati. "Saya juga belum berani bertanya. Jadi ada waktu yang kurang terpakai untuk belajar pekerjaan yang sesuai jurusan."
"Menurut kamu apa yang bisa diperbaiki?"
Audya melirik Mayang sebelum menjawab. "Mungkin sejak awal ada satu orang yang jelas menjadi tempat bertanya, lalu daftar kegiatan sederhana. Jadi anak magang tahu mana yang perlu dipelajari dan siapa yang memeriksa."
Vina mencatatnya. Tidak ada wajah tersinggung seperti yang ditakutkan Audya. Mayang justru menambahkan bahwa penugasan perlu diketahui pembimbing agar tidak saling berbenturan.
Audya merasa lebih lega. Dia tidak perlu mengatakan semuanya sempurna hanya karena ingin mendapat penilaian baik.
Pertemuan selesai dengan beberapa perbaikan kecil pada susunan berkas. Ada contoh pekerjaan yang perlu diberi penjelasan lebih lengkap, juga halaman kegiatan yang belum memiliki paraf. Tidak ada keputusan tentang diterima bekerja atau pujian berlebihan.
Namun saat keluar, Audya merasakan kepuasan yang berbeda. Dia baru saja membicarakan pekerjaannya dengan suara sendiri, dan orang-orang mendengarkan.
Karin bertemu dengannya di dekat lift. Wanita itu membawa berkas untuk ruangan lain dan bertanya apakah urusan magang sudah selesai.
"Belum, Mbak. Masih persiapan. Ada yang perlu dilengkapi."
"Tadi lama juga."
"Ditanya tentang kegiatan dari awal."
Karin mengangguk, lalu menunjukkan halaman yang ada di tangannya. Ada satu catatan yang berkaitan dengan berkas di meja Audya. Mereka membicarakannya sebentar sebelum berpisah.
Audya baru menyadari setelah berjalan kembali bahwa percakapan itu tidak membuatnya menahan napas. Belum tentu mereka akan akrab. Tetapi bisa berbicara tentang pekerjaan tanpa menunggu sindiran ternyata sudah menyenangkan.
Menjelang pulang, Mayang menyerahkan amplop dari bagian administrasi. Uang magang bulan kedua, lima juta rupiah. Audya memeriksa penerimaannya sesuai arahan, lalu menyimpan amplop itu dengan lebih tenang daripada ketika menerima gaji pertama.
Tidak ada suara rentenir menunggu di depan rumah. Tidak ada tagihan yang baru diketahuinya setelah uang sampai di tangan.
Dia tidak ingin menganggap keadaan sudah aman selamanya. Namun kali ini uang tersebut bisa direncanakan, bukan langsung hilang untuk menutup sesuatu yang mengejutkan.
Di perjalanan, Yuni akhirnya membalas. Nomor Aliana yang dulu dipakai sudah ditemukan. Yuni telah mengirim pesan dan menitipkan nomor Audya, tetapi belum menerima jawaban.
Audya membaca kabar itu perlahan. Dia mengucapkan terima kasih, lalu mengirim pesan kepada Dina bahwa pencarian masih dilanjutkan. Tidak ada kalimat yang memastikan Aliana akan menelepon malam ini.
Audya tetap mengajar Naura sore itu. Ponselnya disimpan selama pelajaran, lalu diperiksa kembali setelah buku-buku dibereskan. Belum ada kabar tambahan dari Yuni. Dia berpamitan dan melanjutkan perjalanan pulang dengan dua hal yang sama-sama ingin disampaikan kepada ibu.
Sesampainya di rumah, Audya menunjukkan amplop gaji dan menjelaskan rencananya. Sebagian ingin disimpan untuk kebutuhan setelah magang selesai, sebagian untuk membantu pemeriksaan ayah dan kebutuhan rumah. Mereka akan mencatatnya sebelum dibelanjakan.
Dina mendengarkan tanpa langsung menolak bantuan. Dia juga tidak menganggap seluruh uang sudah menjadi milik keluarga.
"Yang untuk kamu jangan sampai tidak ada," pesannya.
Audya mengangguk. "Aku ingat, Bu."
Dina menanyakan apakah setelah magang selesai Audya akan lebih sering berada di rumah. Pertanyaan itu terdengar ringan, tetapi Audya tetap memikirkan jawabannya sebelum mengangguk terlalu cepat.
"Ada hari yang lebih longgar. Tapi masih ada laporan, urusan kampus, dan les Naura. Nanti kita ubah jadwal toko setelah jadwal kuliahku jelas, ya."
"Ibu cuma tanya. Bukan mau kasih semua giliran ke kamu."
Audya tersenyum meminta maaf. Dia ternyata masih mudah bersiap membela diri, bahkan sebelum ibunya meminta sesuatu. Dina menggeser buku kebutuhan rumah ke tengah meja, dan mereka mencatat pengeluaran yang sudah diketahui untuk beberapa pekan mendatang.
Tidak semua langsung diberi angka. Biaya yang belum jelas dibiarkan sebagai pertanyaan untuk diperiksa, bukan diisi berdasarkan ketakutan. Audya menyukai cara itu. Uang yang baru diterima tidak terasa tanpa batas, tetapi juga tidak langsung habis di dalam kepala sebelum satu rupiah pun dipakai. Mereka menutup buku setelah daftar kebutuhan utama selesai dibuat.
Setelah makan, Andira bertanya apakah Aliana sudah membalas. Audya menjelaskan kabar dari Yuni, kemudian meminta adiknya tidak membuat ibu terus menunggu ponsel berbunyi.
"Tapi kalau kak Aliana benar menelepon, kakak bakal marah?"
Audya terdiam. Jawaban jujurnya tidak sesederhana iya atau tidak.
"Aku masih marah. Tapi aku juga ingin tahu keadaannya."
Andira menunduk pada ujung meja. "Dua-duanya bisa?"
"Ternyata bisa."
Rudi sedang beristirahat di kamar. Audya masuk sebentar untuk meletakkan air minum dalam jangkauan yang biasa dibantu Dina. Ayahnya membuka mata, lalu tersenyum tipis ketika melihat siapa yang datang.
Audya duduk di dekatnya dan bercerita bahwa hari itu dia berhasil menjelaskan kegiatan magangnya. Tentang gaji, tentang pekerjaan, tentang hal-hal kecil yang masih bisa dijalani tanpa menunggu kabar Aliana.
Untuk beberapa saat dia ingin mengatakan bahwa kakaknya seharusnya ada di sini juga. Namun kalimat itu ditahan. Ayah sudah tahu ada seseorang yang belum pulang. Malam ini, Audya memilih menceritakan anak yang sedang duduk di sampingnya.