Naura bersikeras membawa bingkai kertasnya sendiri. Ketika Larasati menawarkan untuk menyimpannya dalam tas agar tidak rusak, gadis kecil itu menggeleng dan memeluk hasil karyanya di depan dada.
"Nanti bunganya lepas."
"Kalau dipeluk terlalu kencang juga bisa lepas," ujar Audya.
Naura langsung melonggarkan tangan. Mereka menepi di bangku dekat halaman sambil menunggu Larasati selesai berbicara dengan guru. Sebagian meja sudah dibereskan, dan sekolah perlahan kembali lebih sepi.
Audya membuka botol minum yang dibawa dari rumah. Sejak keluar kampus, dia baru minum sedikit karena terlalu sibuk memikirkan waktu. Argantara duduk di ujung bangku, menyisakan tempat Naura di antara mereka.
"Bagaimana bimbingannya tadi?"
"Ada revisi, Pak. Tapi sudah lebih jelas yang harus diperbaiki."
"Masih banyak?"
Audya menunjukkan jarak kecil dengan ibu jari dan telunjuk, lalu menurunkan tangannya sendiri. "Kalau dilihat di kertas sedikit. Kalau dikerjakan belum tentu."
Argantara tertawa pelan. Audya ikut tersenyum. Ternyata dia bisa bercanda tanpa harus langsung menyesali kalimat yang keluar.
Naura melihat oma melambaikan tangan dari koridor dan turun dari bangku. Setelah memastikan jalan di depannya kosong, Argantara membiarkannya menghampiri Larasati yang hanya beberapa langkah dari mereka.
Mendadak bangku terasa terlalu luas sekaligus terlalu sempit. Audya merapatkan botol di antara kedua telapak tangan.
"Setelah lulus, kamu ingin tetap di bidang yang sekarang?" tanya Argantara.
"Iya, Pak. Kalau ada kesempatan. Saya ingin bekerja tetap dulu."
"Di bagian keuangan?"
Audya mengangguk. "Saya masih banyak belajar. Tapi saya suka kalau akhirnya menemukan kenapa angka yang awalnya berbeda bisa cocok. Rasanya puas. Walaupun selama mencari penyebabnya sering mau menyerah."
"Kelihatan dari cara kamu memeriksa pekerjaan."
Audya menatapnya sebentar. "Yang Selasa kemarin juga kelihatan, Pak."
"Iya. Itu juga."
Jawaban tanpa basa-basi tersebut justru membuat Audya tertawa kecil. Dia lebih mudah menerima pujian ketika kesalahannya tidak pura-pura dilupakan.
Angin menggerakkan ujung kertas hiasan yang tertinggal di meja dekat mereka. Audya memperhatikan seorang guru mengumpulkannya sebelum kembali menghadap Argantara.
"Saya sebenarnya takut waktu pertama masuk kantor. Takut enggak bisa apa-apa. Sekarang sudah tahu sedikit, malah baru kelihatan yang belum bisa masih banyak."
"Waktu pertama memegang pekerjaan sendiri, saya juga sering harus bertanya."
Audya mengernyit. Sulit membayangkan Argantara berdiri di depan meja orang lain sambil takut salah seperti dirinya.
"Bapak?"
"Menurut kamu saya langsung bisa semuanya?"
Audya buru-buru menggeleng. "Bukan begitu. Cuma bapak kelihatannya selalu tahu harus melakukan apa."
"Kelihatannya saja."
Dia tidak melanjutkan dengan cerita panjang tentang perusahaan. Namun kalimat pendek itu cukup membuat Audya merasa jarak di antara mereka sedikit berkurang. Pria di sampingnya ternyata tidak selalu setenang yang tampak.
Naura memanggil dari koridor, menunjukkan sesuatu yang diberikan guru. Argantara mengangkat ibu jari. Setelah memastikan putrinya masih bersama Larasati, dia kembali menatap Audya.
"Terima kasih sudah datang."
"Naura sudah undang dari kemarin, Pak. Saya juga ingin lihat hasil belajarnya."
"Dia senang kamu menyempatkan waktu."
Audya mengangguk dan mulai memasukkan botol ke tas. Percakapan sepertinya sudah selesai. Sudah waktunya berdiri sebelum kepalanya memikirkan hal yang terlalu jauh lagi.
"Saya juga senang."
Gerakan tangannya berhenti.
Argantara tidak sedang melihat Naura. Matanya tertuju pada Audya, tenang tetapi tidak membuat gadis itu merasa setenang tadi.
"Maksud bapak?"
"Saya senang bisa mengobrol dengan kamu di luar pekerjaan."
Audya menatap tutup botol yang belum terpasang benar. Cepat-cepat dia memutarnya sampai rapat. Hanya itu yang bisa dilakukan sambil berusaha menyusun jawaban.
"Saya juga, Pak."
Kalimat itu keluar pelan, tetapi cukup jelas. Audya ingin menambahkan alasan tentang suasana sekolah atau acara Naura. Namun semua terdengar seperti usaha bersembunyi. Akhirnya dia diam.
Argantara tersenyum. Tidak ada pertanyaan lanjutan yang mendesak. Dia berdiri ketika Larasati dan Naura mendekat, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil tas perlengkapan putrinya.
Audya mengikuti beberapa langkah di belakang. Kepalanya ribut sekali. Padahal tidak ada pengakuan apa-apa. Orang bisa senang mengobrol tanpa bermaksud lebih jauh. Audya tahu itu. Sayangnya pengetahuan tersebut tidak berhasil menyuruh jantungnya kembali bekerja biasa.
Dalam perjalanan pulang, Naura tertidur dengan kepala bersandar pada oma. Audya duduk di depan, kali ini lebih banyak memandangi jalan. Sesekali Argantara menanyakan arah meski sudah pernah datang ke rumahnya. Audya menjawab, lalu kembali diam.
Setiba di depan rumah, Dina keluar menyambut. Larasati yang belum pernah bertemu turun sebentar untuk berkenalan. Audya mengenalkan mereka dengan wajah hangat yang mudah-mudahan bisa disalahkan pada cuaca.
"Terima kasih sudah mengajar Naura. Cucunya sekarang sering cerita tentang kak Audya," ujar Larasati.
Dina tersenyum bangga. Audya menunduk, mendadak merasa seperti anak sekolah yang dipuji di depan ibunya.
Mereka tidak mampir lama karena Naura masih tidur. Setelah mobil pergi, Dina membantu Audya membawa tas masuk.
"Kamu sudah makan?"
"Belum banyak, Bu."
"Ibu sisakan sayur sama telur."
Pertanyaan biasa itu membuat Audya lega. Dia belum siap kalau ibunya langsung menanyakan kenapa senyumnya sulit hilang.
Di ruang tengah, Andira sedang memindahkan beberapa bukunya dari meja. Dia berhenti ketika Audya datang.
"Besok Rani mau ke sini. Buat tugas. Aku sudah bilang rumah kita di sini."
Audya memandang adiknya. "Sudah bilang yang sebenarnya?"
Andira mengangguk dengan wajah tegang. "Belum semuanya. Tapi dia sudah tahu soal toko dan ayah."
"Ya sudah. Besok kita rapikan meja ini. Biar kalian bisa belajar."
Andira menarik ujung sampul bukunya. "Kalau Rani tanya yang kemarin, kakak marah enggak?"
"Marah sama siapa?"
"Sama aku. Di depan dia."
Audya meletakkan tangan pada sandaran kursi. Dia baru memahami mengapa adiknya menunggu di sini meski buku-bukunya sudah selesai dipindahkan.
"Aku enggak akan mempermalukan kamu. Tapi aku juga enggak mau ikut bohong. Kalau ada yang belum kamu ceritakan, bilang sendiri."
Andira mengangguk, kali ini lebih lambat. "Aku takut dia enggak mau temenan lagi."
"Itu perlu waktu. Dia juga berhak kecewa. Besok kerjakan tugas dulu, jangan paksa dia langsung seperti biasanya."
Audya tidak tahu apakah nasihatnya akan berhasil. Dia sendiri sedang belajar menjaga persahabatan yang berubah setelah rasa kecewa. Setidaknya dia bisa memberi Andira satu hal yang dulu diinginkannya: tempat pulang untuk bicara tanpa setiap kalimat langsung dibalas tuduhan.
Andira tampak lega karena tidak langsung diberi nasihat tambahan. Audya melewatinya menuju kamar, menyimpan laptop sebelum makan.
Ponselnya menyala. Larasati mengirim foto mereka bertiga memegang bingkai, disusul pesan singkat ucapan terima kasih. Audya membuka foto itu sampai memenuhi layar.
Naura tertawa di tengah. Dirinya berdiri di satu sisi, Argantara di sisi lain. Bukan gambar tentang masa depan, bukan pula jawaban atas semua hal yang belum jelas. Hanya satu siang yang benar-benar terjadi.
Audya menyimpannya. Kali ini dia tidak buru-buru meletakkan ponsel atau memarahi dirinya karena terlalu senang.
"Kayanya gua memang mulai suka," gumamnya pelan.
Tidak ada yang mendengar. Namun untuk pertama kalinya, Audya sendiri tidak langsung menyangkalnya.