Jam di dinding ruang bimbingan bergerak jauh lebih cepat daripada yang Audya inginkan. Ketika gilirannya selesai, masih ada dua teman yang perlu menjelaskan laporan. Dosen meminta mereka tetap menyimak karena beberapa catatan berlaku untuk semua mahasiswa.
Audya menutup ponsel di pangkuan. Sebelumnya dia sudah mengirim kabar kepada Argantara bahwa bimbingan belum selesai. Tidak ada balasan yang meminta dirinya segera datang. Justru itu membuatnya merasa harus benar-benar memperhatikan urusan yang sedang dijalani.
Pertanyaan dosen masih terngiang. Mengapa data yang belum lengkap tidak langsung dibuang dari rekap? Bagaimana membedakan pekerjaan yang dilakukan sendiri dengan yang diperiksa bersama pembimbing?
Audya berhasil menjawab, meski sempat mengulang kalimat. Latihan dengan Andira ternyata berguna. Dia juga menceritakan kesalahan keterangan yang baru diperbaikinya, tanpa menyebut rincian transaksi kantor.
"Pengalamannya sudah ada. Sekarang susun penjelasannya lebih runtut," pesan dosen sebelum beralih ke mahasiswa lain.
Tidak sempurna, tetapi Audya bisa bernapas lega. Dia tidak perlu berpura-pura sudah menguasai semua hal agar pekerjaannya dianggap berarti.
Bimbingan selesai menjelang pukul sebelas. Audya membereskan laptop dan keluar setelah memastikan catatan perbaikannya lengkap. Di koridor, barulah dia membuka pesan dari Argantara.
Penampilan Naura sudah selesai. Dia sekarang melihat hasil karya bersama oma. Kalau kamu masih ingin datang, acara masih berjalan.
Audya berhenti di dekat tangga. Ada sedikit kecewa meski kemungkinan itu sudah diketahui sejak awal. Dia membalas bahwa akan menyusul, lalu memeriksa alamat yang disimpan dari Larasati.
Perjalanan terasa panjang karena kendaraan beberapa kali berhenti. Audya menahan keinginan melihat jam terus-menerus. Terlambat melihat lagu tidak akan berubah hanya karena dirinya gelisah sepanjang jalan.
Ketika tiba di sekolah, halaman dipenuhi meja kecil dan karya berwarna-warni. Suara anak-anak bercampur percakapan orang dewasa. Audya menemui petugas di pintu, menyebut nama Naura dan guru kelas yang sebelumnya diberikan Larasati.
Beberapa saat kemudian, Argantara muncul dari arah koridor.
"Sudah selesai bimbingannya?"
"Sudah, Pak. Maaf baru sampai."
"Kamu memang bilang setelah bimbingan. Ayo, Naura di dalam."
Pria itu memakai kemeja santai dengan lengan digulung. Tanpa jas, tanpa meja besar, dan dengan stiker berbentuk bintang menempel pada punggung tangannya. Audya hampir tersenyum terlalu lebar ketika menyadarinya.
"Itu dari Naura?"
Argantara melihat tangannya. "Katanya karena saya duduk tenang waktu dia tampil."
Audya tertawa. Jadi bos besarnya juga mendapat hadiah kalau menurut. Rasanya sayang sekali tidak ada yang melihat ekspresi datarnya saat menjelaskan penghargaan penting itu.
Naura sedang berdiri di depan papan pajangan bersama Larasati. Rambutnya dihiasi dua pita merah muda yang kali ini cukup seimbang. Begitu melihat Audya, dia berlari beberapa langkah sebelum berhenti tepat di hadapannya.
"Kakak enggak lihat Nau nyanyi."
Audya berjongkok. "Iya, kakak belum sampai waktu Naura tampil. Kakak sedih juga karena terlewat."
Naura menunduk, memainkan ujung bajunya.
"Tapi kakak sudah datang sekarang. Boleh lihat gambar yang Naura buat?"
Gadis kecil itu tidak langsung tersenyum. Audya menunggu tanpa menyodorkan alasan tambahan. Tidak ada gunanya mengulang penjelasan tentang kampus sampai Naura merasa harus berhenti kecewa.
Setelah beberapa saat, tangan kecil itu meraih jemarinya.
"Yang ini punya Nau. Jangan lihat yang sebelah dulu."
Audya mengikuti. Gambar pertama berupa taman dengan matahari besar, lalu sebuah rumah yang jendelanya lebih banyak daripada pintunya. Naura menjelaskan semuanya seolah sedang memandu tamu penting.
Larasati duduk sebentar di kursi dekat papan. Dia tampak senang membiarkan cucunya bercerita tanpa harus buru-buru berpindah ke tempat lain.
Guru kelas Naura menghampiri dan menjelaskan bahwa anak-anak memilih sendiri karya yang ingin dipajang. Gambar rumah sempat hendak diganti karena Naura merasa garisnya tidak lurus. Namun setelah dibujuk mencoba menyelesaikan, dia justru ingin gambarnya ditempatkan paling depan.
"Kakak lihat, ini enggak keluar garis," kata Naura sambil menunjuk bagian atap.
Audya mendekat untuk memperhatikan. Dia ingat betapa cepat Naura biasanya meninggalkan gambar kalau hasil awalnya tidak sesuai keinginan. Mendengar cerita gurunya membuat usaha kecil selama belajar di rumah terasa punya kelanjutan di tempat lain.
Argantara mengambil foto karya itu sebelum mereka bergeser. Dia menanyakan beberapa hal kepada guru, termasuk kegiatan yang paling disukai putrinya. Audya berdiri sedikit menjauh agar tidak menyela.
"Biasanya saya cuma sempat mengantar," ujar Argantara setelah guru beralih menemui orang tua lain. "Banyak yang ternyata belum pernah saya lihat."
Audya memandang deretan kertas berwarna pada dinding. Di rumah besar mereka, hampir semua kebutuhan Naura tersedia. Namun gambar sederhana di papan sekolah ini tetap harus didatangi untuk bisa dilihat langsung. Audya senang Argantara berada di sini cukup lama untuk memperhatikannya.
"Ini papanya Naura, ya?" sapa seorang ibu yang datang bersama anak laki-laki.
Argantara mengangguk. Mereka berbasa-basi singkat tentang penampilan anak-anak. Wanita itu kemudian menoleh kepada Audya.
"Oh, ini mamanya?"
Audya langsung menggeleng. Sebelum dia menemukan kalimat yang tidak terdengar gugup, Argantara memperkenalkannya dengan tenang.
"Ini Audya, guru les Naura. Tadi menyusul setelah dari kampus."
Wanita itu meminta maaf singkat, lalu menyapa Audya. Percakapan berlanjut tanpa suasana aneh. Justru Audya sendiri yang mendadak sibuk merapikan tali tas.
Guru les Naura. Memang itu kenyataannya. Namun mendengar sebutan tersebut di antara mereka membuat Audya menyadari betapa mudah kepalanya berjalan lebih jauh daripada keadaan sebenarnya.
"Kakak peri," tambah Naura, merasa perkenalan tadi belum lengkap.
Semua orang tertawa kecil. Audya ikut tersenyum dan kembali mendengarkan penjelasan gambar berikutnya.
Kegiatan terakhir yang masih bisa diikuti adalah menghias bingkai kertas. Naura memilih meja kosong, lalu meminta papa duduk di sebelahnya. Audya berniat menunggu bersama Larasati, tetapi gadis kecil itu menunjuk kursi lain.
"Kakak bantu pegang lem."
"Kakak bagian pegang saja?"
"Iya. Yang tempel Nau."
Pembagian tugas tidak bisa ditawar. Argantara bertugas memotong hiasan sesuai garis, sementara Audya memastikan lem tidak tumpah. Naura mengatur letak bunga dengan keseriusan yang membuat keduanya menunggu keputusan sebelum memindahkan apa pun.
Sesekali tangan Audya dan Argantara hampir bersentuhan saat mengambil kertas. Audya memilih memusatkan perhatian pada tutup lem. Benda kecil itu mendadak terasa sangat penting untuk diperiksa.
Setelah selesai, Naura mengangkat bingkai dengan bangga. Larasati mengambil ponsel dan meminta mereka mendekat agar hasilnya bisa difoto.
Audya sempat bergeser keluar, tetapi Naura menarik ujung lengan bajunya.
"Kakak ikut. Tadi kan bantu."
Argantara menatapnya sebentar, menunggu. Audya akhirnya mengangguk dan berdiri di sisi Naura. Bunyi kamera terdengar dua kali karena pada foto pertama gadis kecil itu menutup wajahnya sendiri dengan bingkai.
Menjelang pulang, Argantara menunjukkan rekaman penampilan tadi. Audya menonton di samping Naura, melihat gerakan yang selama dua pertemuan terakhir sering diperagakan di sela belajar.
"Tuh, Nau enggak lupa," kata Naura.
"Iya. Bagian yang kemarin susah juga sudah bisa."
Wajah Naura akhirnya cerah sepenuhnya. Audya ikut lega. Dia memang tidak datang tepat waktu untuk melihat semuanya. Namun siang itu masih menyisakan cukup banyak hal yang bisa mereka nikmati bersama.