Profesor Hartono dari Universitas Sumatera Utara tidak tahu bahwa orang-orang yang menjemputnya di bandara adalah serigala. Yang ia tahu hanyalah ini: sebuah yayasan konservasi misterius bernama Pradipta Lestari menawarkan akses tak tertandingi ke kawasan hutan yang belum pernah dipetakan siapa pun—dan dana penelitian yang membuat dekan fakultasnya nyaris pingsan.
"Kami membutuhkan kerahasiaan," kata Sasi di ruang pertemuan markas yang sengaja disamarkan menjadi kantor yayasan biasa. Lemari arsip, peta konservasi, foto satwa liar. Tidak ada jejak kawanan. "Lokasi penelitian tidak boleh dipublikasikan. Spesimen tertentu tidak boleh difoto. Sebagai gantinya, Anda mendapat data lapangan yang tidak akan pernah didapat ilmuwan lain."
Hartono, lelaki kurus berusia enam puluhan dengan mata yang lapar akan ilmu, menyetujui tanpa ragu. "Saya sudah meneliti perilaku canis di Sumatera selama tiga puluh tahun, Bu. Apa pun yang Anda tawarkan, saya terima."
Yang tak ia ketahui, kawanan punya dua tujuan dari kemitraan ini.
Yang pertama: melalui Hartono dan timnya, kawanan akan belajar memahami dunia modern dari dalam—bagaimana sains manusia melihat alam, teknologi apa yang dipakai untuk melacak hewan, di mana titik buta sistem itu. Pengetahuan yang akan melindungi mereka.
Yang kedua: kawanan benar-benar bisa membantu. Mereka mengenal hutan seperti mengenal tubuh sendiri. Mereka tahu di mana harimau terakhir bersembunyi, di mana sungai mengering, di mana pemburu liar memasang jerat. Pengetahuan yang dikumpulkan selama berabad-abad oleh makhluk yang berlari di antara pepohonan dengan kaki empat.
Raka, putra kawanan Sasi yang masih muda dan bersemangat, ditugaskan menjadi penghubung lapangan. Ia menyamar sebagai pemandu lokal. Selama tiga minggu ia membawa tim Hartono menembus hutan, menunjukkan jalur-jalur yang tak ada di peta mana pun.
"Bagaimana kau tahu rusa itu akan lewat sini?" tanya Hartono suatu sore, takjub, setelah Raka memprediksi pergerakan kawanan rusa dengan ketepatan mustahil.
Raka tersenyum. "Naluri, Prof. Keluarga saya sudah tinggal di hutan ini turun-temurun." Setengah kebenaran. Sebagaimana semua hal kini.
Penelitian itu menghasilkan temuan yang akan mengguncang dunia konservasi: populasi predator yang dikira punah ternyata bertahan, koridor satwa yang belum terdokumentasi, ekosistem utuh yang luput dari mata satelit. Hartono menulis tiga makalah. Namanya melambung. Dan ia tak pernah curiga.
Di markas, Sasi menerima laporan dari Raka. "Berhasil," kata putranya, wajahnya bersinar. "Mereka mempercayai kita. Dan kita belajar banyak—Bu, manusia punya alat yang bisa mendeteksi panas tubuh dari udara. Kita harus berhati-hati saat berubah di malam hari."
Sasi mengangguk perlahan. Informasi berharga. Persis seperti yang ia harapkan.
"Ini baru satu universitas," kata Sasi pada Tika malam itu. "Bayangkan jika kita punya sepuluh. Pejabat. Aktivis. Dokter. Sebuah jaring manusia tepercaya yang melindungi kita tanpa pernah tahu mereka melindungi apa."
Tika menatap istrinya dengan campuran kagum dan cemas. "Kau membangun sesuatu yang belum pernah ada dalam sejarah kawanan."
"Karena kawanan belum pernah hidup di dunia seperti ini." Sasi menutup folder laporan. Pintu pertama telah terbuka. Dan di baliknya, ribuan pintu lain menunggu.
(bersambung...)