Ruang dewan kawanan di lantai atas markas Jakarta belum pernah sepenuh ini. Para tetua dari Sukabumi, perwakilan kawanan Yogyakarta, Rino sebagai Deputy Alpha, Kirana dengan buku catatannya, Dewangga sang penasihat tua yang punggungnya kini membungkuk—semua hadir. Di kepala meja, Sasi berdiri.
Di tangannya selembar dokumen. Dekrit pertamanya sebagai alpha.
"Selama ratusan tahun," Sasi memulai, "kawanan kita hidup dengan satu hukum tertinggi: manusia tidak boleh tahu. Rahasia adalah perisai kita. Tapi perisai itu kini menjadi penjara." Dia meletakkan dokumen di meja. "Hari ini aku memperkenalkan kebijakan Transparansi Bertahap."
Dewangga mengangkat tangannya yang gemetar. "Anak muda, kau bicara membuka rahasia kita? Itu bunuh diri. Damar—ayahmu—akan—"
"Ayahku menyetujui prinsipnya sebelum dia jatuh sakit," potong Sasi tegas. "Dan ini bukan membuka rahasia, Tetua. Dengarkan dulu."
Ruangan hening. Sasi menjelaskan. Kawanan tidak akan mengungkap kebenaran penuh—tidak akan ada pengumuman bahwa serigala berjalan di antara manusia. Tapi mereka akan mulai melibatkan manusia tertentu: akademisi yang bisa dipercaya, pejabat pemerintah yang berpengaruh, aktivis lingkungan yang melindungi hutan tempat kawanan berlari. Manusia-manusia ini akan dilibatkan dalam proyek bersama—konservasi, penelitian, perlindungan lahan—tanpa pernah diberi tahu rahasia terdalam.
"Mengapa?" tanya Rino, kini berfungsi persis seperti yang Sasi inginkan—menantang, bukan menyembah.
"Karena dunia manusia sedang menyempit ke arah kita," jawab Sasi. "Drone. Satelit. Kamera pengintai di hutan. Penyelidik yang mulai mencatat 'serangan hewan aneh.' Suatu hari, mereka akan menemukan kita sendiri. Lebih baik kita membangun jembatan terlebih dahulu, dengan orang-orang yang akan membela kita ketika hari itu tiba. Buffer. Lapisan pelindung dari manusia yang berutang budi pada kita tanpa tahu apa kita sebenarnya."
Kirana berdiri. Semua menahan napas—mereka menduga dia akan menyerang. "Aku penjaga tradisi," katanya pelan. "Dan tradisi tertua kita... adalah bertahan hidup. Sasi benar. Leluhur kita berubah bentuk untuk bertahan. Kini kita harus berubah cara untuk alasan yang sama."
Sasi menatap Kirana dengan rasa terima kasih yang dalam. Sekutu yang paling tak terduga.
Pemungutan suara dilakukan. Empat belas mendukung. Tiga menolak. Dua abstain. Dekrit lolos.
Malam itu Sasi menandatangani dokumen dengan tinta merah di bawah cahaya lilin, sesuai ritual kawanan. Tika menyaksikan dari ambang pintu. "Kau gemetar," katanya.
"Aku tahu," jawab Sasi, meletakkan pena. "Setiap alpha sebelumku menjaga rahasia. Aku alpha pertama yang sengaja membaginya, walau setetes. Jika aku salah, aku menghancurkan tujuh ratus tahun."
Tika berjalan mendekat dan akhirnya menggenggam tangan istrinya. "Dan jika kau benar, kau menyelamatkan tujuh ratus tahun ke depan."
Sasi memandang tanda tangannya yang masih basah. Di luar jendela, lampu-lampu Jakarta berkelap-kelip—jutaan manusia yang tak tahu bahwa malam ini, sejarah kawanan baru saja berbelok arah.
(bersambung...)