Yuti yang pertama menyadarinya. Putri Sasi yang manusia—lahir tanpa darah serigala, anomali dalam keluarga alpha—punya mata yang tajam justru karena ia hidup di dua dunia.
"Ada mobil sama tiap hari di seberang markas Jakarta," kata Yuti lewat telepon. "Plat berbeda-beda, tapi orangnya sama. Aku catat. Tiga hari berturut-turut, Bu. Mereka memotret siapa yang masuk-keluar."
Sasi merasakan darahnya mendingin. Pengintaian. Sistematis. Bukan kriminal biasa—kriminal tidak sesabar itu.
Ia memanggil rapat tertutup. Hanya tiga orang: dirinya, Dewangga, dan Damar yang datang khusus dari Sukabumi meski tubuhnya menolak perjalanan jauh.
"Polisi," kata Damar setelah mendengar laporan, suaranya serak. "Atau intelijen. Pola itu—aku pernah melihatnya. Tahun delapan puluhan, mereka pernah hampir menemukan kita. Kakekmu menghabiskan dua tahun membersihkan jejak."
"Bagaimana cara membersihkannya?" tanya Sasi.
Dewangga dan Damar bertukar pandang—pandang dua lelaki tua yang menyimpan rahasia berdarah.
"Alibi," kata Dewangga. "Markas Jakarta harus punya wajah resmi. Yayasan, perusahaan, sesuatu yang bisa diperiksa dan terlihat membosankan. Orang-orang yang masuk-keluar harus punya alasan di atas kertas. Karyawan. Anggota komunitas. Bukan kawanan."
"Cover-up," gumam Sasi.
"Bertahan hidup," koreksi Damar.
Tapi di sinilah perpecahan muncul. Karena begitu rencana itu dijelaskan ke lingkaran dalam, dua kubu langsung terbentuk.
Rino—pemuda kawanan yang radikal, matanya selalu menyala oleh kemarahan generasi muda—menggebrak meja. "Kenapa kita harus sembunyi terus? Lima puluh tahun kita merangkak di bawah tanah. Sekarang Alpha Sasi bicara melibatkan manusia, tapi giliran manusia datang, kita malah lebih sembunyi? Munafik."
"Kau ingin kita terbongkar?" balas Kirana tajam, untuk pertama kalinya sependapat dengan Sasi soal kehati-hatian. "Kau ingin lab manusia membedah kita?"
"Aku ingin kita berhenti hidup ketakutan!" teriak Rino.
Sasi mengangkat tangan. Ruangan diam.
"Kalian berdua benar," katanya, dan keduanya menatapnya bingung. "Rino benar bahwa sembunyi selamanya bukan masa depan. Kirana benar bahwa terbongkar sekarang adalah kematian. Maka jawabannya bukan sembunyi total atau buka total. Jawabannya adalah memilih—siapa yang tahu, kapan mereka tahu, seberapa banyak."
Ia menatap Damar, lalu Dewangga. "Untuk agen ini, kita pakai alibi. Sekarang. Karena kita belum siap. Tapi aku tidak akan menjanjikan sembunyi selamanya. Suatu hari, kita pilih beberapa manusia, dan kita buka—sedikit, terkendali. Itu bukan menyerah. Itu mengatur tempo."
Rino tidak puas, tapi diam. Kirana mengangguk waspada.
Malam itu, tim Sasi mendaftarkan markas Jakarta sebagai yayasan pelestarian budaya. Papan nama dipasang. Dokumen disiapkan. Esoknya, ketika mobil pengintai datang lagi, yang mereka lihat hanyalah gedung membosankan tempat orang belajar tari tradisional.
Tapi Sasi tahu mata manusia itu tidak akan pergi selamanya. Mereka hanya menunggu kesalahan pertama.