Tika tidak pernah meninggikan suara. Itulah kekuatannya.
Sebagai beta perempuan pertama kawanan—pasangan Sasi yang juga membuat sejarah dengan caranya sendiri—Tika punya posisi unik. Ia cukup dekat dengan Sasi untuk jujur, dan cukup tua dalam adat untuk dipercaya kawanan tradisional. Sementara Sasi memimpin dengan keberanian, Tika memimpin dengan kesabaran.
"Kau salah cara, sayang," kata Tika malam itu, sambil melipat selimut di kamar mereka. "Bukan idenya. Caramu menyampaikan."
Sasi mengerutkan dahi. "Aku jujur di rapat. Aku tidak berbohong soal melibatkan manusia."
"Justru itu. Kau menamainya 'melibatkan manusia'." Tika duduk di tepi ranjang, menghadapnya. "Bagi kawanan tua, kata itu sama dengan 'mengkhianati'. Mereka mendengar pengkhianatan, bukan strategi. Kau harus membungkus yang baru dengan kain yang lama."
"Maksudmu berbohong?"
"Maksudku menerjemahkan." Tika tersenyum, sabar seperti biasa. "Dengar. Adat kawanan sudah punya konsep 'mata di luar sarang'—pengamat luar yang melindungi kawanan. Dulu itu manusia yang berutang budi pada alpha. Kau tidak menciptakan ide baru. Kau menghidupkan ide lama dengan wajah modern. Kalau kau bilang begitu, Kirana pun akan mengangguk."
Sasi terdiam. Bertahun-tahun ia berpikir kepemimpinan adalah soal mengganti yang usang. Tika menunjukkan jalan lain: melanjutkan benang lama menjadi kain baru, hingga tidak ada yang merasa kehilangan.
"Kau seharusnya yang jadi alpha," gumam Sasi.
"Tidak." Tika menggeleng. "Aku tidak bisa membuat keputusan yang membuat orang membenciku. Kau bisa. Itu sebabnya kau alpha dan aku konselormu. Kita pasangan yang tepat justru karena berbeda."
Di hari-hari berikut, Tika menjadi jembatan yang Sasi tidak bisa jadi sendiri. Ia minum teh dengan ibu-ibu kawanan tua, mendengar keluhan yang tidak berani mereka ucapkan langsung ke alpha. Ia menyaring kemarahan menjadi masukan. Perlahan, kawanan tradisional mulai merasa didengar—bukan oleh Sasi yang menakutkan mereka, tapi oleh Tika yang mereka percaya.
Sementara itu, ikatan tak terduga tumbuh di sudut lain rumah. Maya—ibu Sasi, penulis tua yang kini berjalan dengan tongkat—menemukan teman cerita di Tika. Keduanya duduk berjam-jam di beranda Sukabumi, Maya bercerita tentang masa muda bersama Damar, Tika mendengarkan dengan mata berbinar.
"Kau tahu," kata Maya suatu sore, tangannya yang keriput memegang tangan Tika, "dulu aku juga menantu yang ditakuti kawanan. Manusia, masuk ke dunia serigala. Mereka pikir aku akan menghancurkan semuanya."
"Apa yang membuat mereka menerimamu?"
Maya tersenyum, matanya menerawang lima puluh tahun ke belakang. "Aku tidak meminta diterima. Aku hanya mencintai Damar terang-terangan, sampai mereka lelah membenciku." Ia menepuk tangan Tika. "Kau dan Sasi akan baik-baik saja. Cinta yang sabar selalu menang melawan adat yang keras. Selalu, pada akhirnya."
Tika membawa kalimat itu pulang ke kamar malam itu, dan mengulangnya pada Sasi yang masih terjaga, gelisah memikirkan kawanan.