Mansion itu lebih besar dari yang Maya bayangkan dari foto-foto majalah.
Dua lantai. Marmer hitam yang dipoles sampai bisa dijadikan cermin. Taman dengan pohon-pohon tinggi yang sengaja dibiarkan liar—bukan taman ala Bali resort, bukan juga taman Eropa yang manicured, tapi sesuatu di antaranya, seolah pemiliknya sengaja mau tetap ada hutan kecil di tengah Cipete.
Di gerbang besi setinggi tiga meter, dua satpam berseragam hitam mengangguk pada supir Maya tanpa diminta. Tidak meminta KTP. Tidak meminta plat nomor. Sudah tahu.
"Tinggal di sini, Mbak Maya? Selamat datang."
Maya tidak ingat memberi tahu siapa pun namanya. Supir yang menjemputnya pagi tadi—yang Damar kirim dari kantornya—juga tidak banyak bicara. Tahu rute ke kontrakan Maya tanpa diberi alamat. Tahu bagasi mana yang Maya butuh tahu tanpa ditanya.
Resepsionis mansion—perempuan berumur tiga puluhan, berseragam putih dengan dasi hitam tipis, rambut yang dikuncir ke belakang dengan rapi—sudah menunggu di pintu utama saat Maya turun dari mobil.
"Selamat datang, Bu. Saya Yuni. Pak Damar sedang rapat di kantor sampai jam tujuh malam. Beliau bilang Bu boleh pilih kamar mana saja di sayap kanan."
"Sayap kanan?"
"Iya, Bu. Sayap kiri kamar Pak Damar. Dia pikir Bu lebih nyaman dengan ruang sendiri di awal."
Maya mengangguk. Kalimat Yuni terdengar profesional, tapi ada sesuatu di nadanya yang Maya tidak bisa tunjuk—seperti dia sudah berlatih kalimat itu, atau seperti dia sudah menerima banyak tamu seperti Maya sebelumnya. Yang aneh, karena Damar—dari yang Maya tahu—belum pernah menikah.
Maya mengikuti Yuni naik tangga marmer. Setiap langkahnya bergema. Mansion ini terlalu sepi untuk siang hari.
"Berapa orang kerja di sini?"
"Dua belas, Bu. Tapi kebanyakan tinggal di paviliun belakang."
"Dua belas? Untuk satu rumah?"
Yuni hanya tersenyum. Tidak menjawab.
Maya memilih kamar di pojok—yang paling dekat dengan jendela menghadap taman. Kasur king size dengan seprai linen putih yang sudah disetrika rapi. Lemari built-in sebesar kamar kontrakannya di Tebet. Kamar mandi dengan bathtub yang mukanya bisa muat dua orang, dengan keran logam yang Maya curiga bukan logam biasa—mengkilap terlalu sempurna.
Maya sebenarnya cuma butuh tempat untuk tidur dan menangis. Tapi OK. Dia akan menangis di bathtub, mungkin.
"Pak Damar akan pulang jam delapan, Bu. Makan malam siap di ruang utama jam delapan tiga puluh."
"Saya... boleh keluar dulu? Ke mall atau apa. Saya lupa beli beberapa hal."
Yuni terdiam sebentar. Lalu, dengan senyum yang Maya tidak bisa baca:
"Sebaiknya jangan, Bu. Hari ini. Pak Damar bilang Bu istirahat dulu, jet lag dari pindahan."
"Saya pindah dari Tebet, Yuni. Tujuh kilometer. Bukan jet lag."
Yuni tertawa kecil. Tertawa yang sopan, terlatih, tapi yang Maya sadari—mungkin paranoid, tapi sadari—mengandung sesuatu yang lain. Bukan kekhawatiran biasa. Sesuatu yang lebih dekat ke perlindungan.
"Saya pesan apa pun yang Bu butuh. Daftarnya di meja. Tinggal centang, nanti kurir saya kirim sebelum maghrib."
"Yuni. Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Tidak ada apa-apa, Bu. Pak Damar cuma protektif. Bu istri baru. Beliau ingin Bu aman."
Aman dari apa? Maya ingin tanya. Tapi Yuni sudah keluar pelan, menutup pintu dengan klik yang nyaris tidak terdengar.
Pintu ditutup. Maya sendirian.
Dia duduk di tepi kasur. Membuka HP. Membaca pesan dari sahabatnya, Lila, yang sudah masuk pagi tadi tapi belum dia balas:
*Lila: "Lo gila ya nikahin pria yang baru lo liat fotonya tiga hari lalu. Tapi gw doain lo selamat. Kabarin tiap hari, ya?"*
Maya mengetik balasan: *"Doain aja gw bisa survive setahun, La. Mansion ini lebih besar dari mall. Kalau gw mati, password Instagram gw 'mayasayur123'."*
Dia menutup HP. Berbaring. Menatap langit-langit yang terlalu tinggi.
Di luar jendela, matahari mulai turun. Cahaya oranye masuk lewat tirai sutra yang—Maya akui—lebih halus dari semua kain yang pernah dia sentuh dalam hidupnya. Maya menutup mata.
Pukul setengah tujuh malam, dia bangun karena suara—bukan suara mansion biasa.
Suara langkah. Banyak. Di taman.
Bukan langkah satpam yang berpatroli. Lebih berat. Lebih cepat. Dan lebih sunyi—seperti sesuatu yang berusaha tidak terdengar tapi tetap terdengar oleh telinga yang terbangun.
Maya bangun pelan. Berjalan ke jendela. Menarik tirai sutra sedikit.
Dan melihat sesuatu yang membuat dia berkedip dua kali.
Di taman, di antara pohon-pohon yang sengaja dibiarkan liar, tiga ekor anjing besar berwarna abu-abu sedang berdiri. Tegak. Diam. Menatap ke arah jendela kamarnya.
Bukan anjing. Terlalu besar—tinggi bahu mereka mungkin sepinggang Maya, dan Maya tidak pendek. Terlalu... tegak. Anjing besar tetap punya postur anjing. Yang ini berdiri seperti makhluk yang sebenarnya manusia tapi memilih bentuk lain.
Mata mereka kuning di senja. Bukan kuning lampu—kuning api. Kuning yang terlalu cerah untuk warna mata hewan biasa.
Maya menutup tirai. Cepat. Tangannya gemetar saat dia mundur tiga langkah ke belakang.
Lalu duduk di tepi kasur. Memikirkan kontrak yang baru dia tanda tangan kemarin.
Memikirkan bahwa dia mungkin baru saja menukar setahun hidupnya untuk masuk ke rumah yang bukan rumah biasa, dengan suami yang bukan suami biasa.