Notaris itu mendorong map kuning ke tengah meja, menatap Maya dengan ekspresi yang sebenarnya bilang: ini bukan tawaran biasa, dan saya minta maaf sebelumnya untuk apa yang akan saya katakan.
"Ibu Mbak menyiapkan ini delapan tahun lalu. Surat wasiat. Mbak Maya akan mewarisi rumah di Bandung, deposito empat milyar rupiah, dan portofolio saham di tiga perusahaan listed. Total estimasi: enam koma sembilan milyar."
Maya, dua puluh lima tahun, di-PHK dua minggu lalu dari perusahaan event organizer di Mega Kuningan, sedang menunggak kontrakan kos di Tebet selama dua bulan, hampir menumpahkan kopinya ke meja kayu mahogani notaris. Suara cangkir berdenting di piring kecil—tangannya gemetar, walaupun dia berusaha menyembunyikan dengan menggenggam cangkir lebih keras.
"Pak. Maaf. Berapa milyar tadi?"
"Enam koma sembilan."
"Saya bisa bayar kontrakan tiga ratus tahun ke depan dengan itu."
"Ya, Mbak. Tapi ada syarat."
Senyum Maya yang baru saja muncul lenyap.
"Syarat apa, Pak?"
"Mbak harus menikahi seorang pria yang Ibu Mbak sudah pilihkan. Setahun penuh. Setelah satu tahun, Mbak boleh cerai dan tetap mempertahankan seluruh warisan. Tapi selama setahun itu, Mbak harus tinggal serumah dengan pria itu, tampil sebagai pasangan resmi di publik, dan tidak boleh terlibat romantis dengan orang lain."
Maya tertawa. Sekali. Ke arah langit-langit kantor notaris yang dilapisi kayu jati tua.
"Pak, ini bercanda kan? Ini tahun 2026. Bukan tahun 1985 di sinetron RCTI."
"Saya tidak bercanda, Mbak."
"Ibu meninggal tujuh tahun lalu. Kenapa baru sekarang aktif?"
Notaris membuka folder lain. Dokumen yang lebih tua, kertasnya sudah agak menguning di pinggir.
"Karena syaratnya: Mbak harus berumur dua puluh lima dan masih lajang saat kontrak diaktifkan. Kemarin Mbak ulang tahun yang ke-25. Hari ini hari pertama kontrak bisa berlaku."
Maya menelan ludah. Ibunya yang romantis akut—yang nonton drama Korea sampai mendengkur di sofa, yang menangis tiap kali Maya cerita putus dengan pacar—ternyata juga romantis akut soal jodoh anaknya. Bahkan dari kuburan. Bahkan delapan tahun setelah dia menulis surat wasiat di rumah sakit, di tengah kemoterapi yang sudah tidak banyak menolong.
"Pak. Siapa orangnya?"
Notaris membuka map. Mendorong satu lembar foto.
Maya melihat foto itu. Berhenti bernapas.
Karena yang menatapnya dari foto adalah Damar Pradipta. CEO Pradipta Group. Pria yang fotonya muncul di setiap majalah bisnis Indonesia. Pria yang dua tahun lalu Forbes sebut "30 under 30" Asia Tenggara—sebelum dia memboikot wawancara mereka karena alasan privasi yang Damar tidak pernah jelaskan ke publik.
"Pak. Ini... bukan dia kan? Dia Damar Pradipta. CEO konglomerat."
"Iya, Mbak. Itu dia."
"Tapi dia—"
"Sudah setuju. Tanda tangan kontraknya tiga hari lalu di kantor saya. Sekarang tinggal Mbak."
Maya menatap foto itu. Damar Pradipta. Tiga puluh tahun. Mata gelap yang dari foto kelihatan seperti coklat tua, tapi yang Maya curigai—kalau dia melihat dari dekat—mungkin ada warna lain di dalamnya. Rahang tegas. Ekspresi seperti orang yang tidak pernah tertawa sembarangan, atau mungkin tidak pernah tertawa sama sekali.
"Pak. Kenapa dia mau? Dia pria yang setiap perempuan single di Asia Tenggara mau nikahi. Dia bisa pilih siapa pun."
Notaris menutup map. Menatap Maya dengan ekspresi yang Maya akan ingat lama setelah dia keluar dari kantor itu—campuran simpati profesional dan sesuatu yang lebih dekat ke ketakutan.
"Itu Mbak harus tanya langsung. Saya tidak punya jawabannya. Yang saya tahu hanya: dia setuju, kontraknya valid secara hukum, dan kalau Mbak menolak, seluruh warisan jatuh ke yayasan Ibu yang ditunjuk—tidak ada yang masuk ke Mbak."
Maya menutup mata. Menarik napas. Memikirkan kontrakan kos yang sudah dua bulan nunggak, dengan ibu kost yang sudah dua kali datang ngetuk pintu sambil menyebut "denda lima persen per minggu." Memikirkan tabungan yang tinggal seratus enam puluh delapan ribu di rekening BCA. Memikirkan wajah ibunya yang tersenyum di pemakaman tujuh tahun lalu, mengatakan kalimat terakhir lewat genggaman tangan yang lemah: *"Kamu akan baik-baik saja, Maya. Mama sudah pastikan."*
Sialan, Bu. Sialan kalau ini caramu memastikan.
"Sialan."
Lalu Maya mengambil pulpen yang notaris sudah siapkan—pulpen Mont Blanc yang lebih mahal dari satu bulan gaji Maya yang baru saja hilang.
Lalu tanda tangan.
Notaris meraih dokumen pelan-pelan. Memastikan tinta kering. Menyelipkannya ke dalam folder.
"Mbak Maya. Damar akan menjemput Mbak besok pagi pukul delapan. Mbak akan pindah ke rumahnya hari itu juga."
"Pindah?"
"Sudah ada di kontrak butir tujuh. Tinggal serumah dimulai dari hari pertama."
Maya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Kepala terlalu pusing untuk satu pagi.
"Sialan banget."
"Saya turut prihatin, Mbak. Tapi—" notaris menyodorkan amplop kecil, "—ini deposit pertama. Lima puluh juta, untuk biaya hidup dua minggu pertama dan lunasi kontrakan."
Maya menerima amplop itu dengan tangan yang masih gemetar.
Untuk pertama kalinya dalam dua bulan, dia bisa bernapas.
Untuk pertama kalinya juga, dia merasa: dia baru saja menjual setahun hidupnya kepada orang asing yang fotonya saja membuat dia takut.