Hari kedua, Damar belum bangun.
Tubuhnya pucat di ranjang. Napasnya pendek. Tabib datang dua kali sehari untuk mengganti perban dan memberi ramuan—ramuan yang dimasukkan lewat IV improvisasi dari logam perak putih.
Pamannya—Pak Dewangga, tetua kawanan Pradipta—datang dari Solo siang itu. Pria tua tujuh puluh dua tahun, rambut perak yang dipotong rapi, postur yang masih tegak walaupun usia. Wajahnya yang biasanya tenang sekarang berat dengan kekhawatiran.
Dewangga melihat Maya di sebelah Damar. Lalu mata Maya—yang masih kuning gelap dari aktivasi racun, walaupun warnanya sudah mulai memudar setelah dua puluh empat jam.
Dewangga berlutut. Di lantai kamar Damar. Di hadapan Maya.
Maya kaget. Berdiri dari kursi sebelah ranjang.
"Pak—jangan—"
"Luna," Dewangga berkata, suara yang stabil. "Saya tundukkan kepala saya pada kau."
"Pak, saya bukan—"
"Mate alpha. Yang menyelamatkan alpha kami dari kematian. Dengan mengaktifkan kekuatan kau sendiri, mempertaruhkan hidup kau. Itu tindakan luna. Dalam tradisi kawanan, itu mengangkat kau dari posisi 'istri alpha' ke posisi 'luna'—pemimpin pasangan, dengan otoritas penuh saat alpha tidak sadar."
Maya menutup mulutnya.
Yuni—yang berdiri di belakang dengan dua kawanan beta lain—menjelaskan pelan, melihat kebingungan Maya:
"Bu, luna itu istri alpha. Posisi tertinggi setelah alpha. Kawanan akan menundukkan kepala pada Bu, sama seperti pada Pak Damar. Itu... itu hak Bu sekarang."
"Tapi saya bukan—"
"Bu mengaktifkan racun keluarga Tirtonegoro untuk Damar. Kawanan Pradipta tahu itu sekarang—Bagas sudah cerita di rapat darurat. Itu bukti bond Bu sejati. Bukan kontrak. Bukan kewajiban. Bond."
Dewangga berdiri pelan, dengan bantuan tongkat kayu yang dia bawa.
"Luna Maya. Sampai alpha bangun, kau yang memimpin kawanan. Itu hak kau, dan kewajiban kau."
"Saya tidak tahu cara—"
"Saya akan ajarkan. Saya hanya butuh izin kau untuk bertindak atas nama kawanan. Sebagai tetua, saya bisa memutuskan hal-hal operasional, tapi keputusan strategis tetap di kau."
Maya mengangguk pelan. Tubuhnya terlalu lelah untuk menentang protokol kawanan yang dia tidak mengerti sepenuhnya.
"Iya. Saya... iya. Tolong."
Dewangga tersenyum. Pertama kalinya dalam hari itu.
***
Hari kedua malam, kawanan Wijayakusuma—yang tersisa setelah Reno jatuh—kirim utusan ke gerbang mansion. Maya menerimanya di lobi yang sebagian sudah dibersihkan. Marmer pecah sudah dipindahkan, walaupun garis darah emas masih kelihatan samar di lantai.
Utusan itu—seorang pria empat puluhan dengan postur yang tegang—menundukkan kepala dalam-dalam saat melihat Maya.
"Luna. Reno belum mati. Tapi tidak bisa berdiri. Pemimpin kami sekarang adalah saudaranya, Pratama. Pratama mengirim pesan: kami mundur. Kami tidak akan menyerang lagi."
Maya menatap utusan itu dengan mata kuning gelap yang masih belum berubah sepenuhnya kembali ke coklat.
"Reno?"
"Sekarat. Tapi belum mati. Tubuh-nya menolak untuk pergi."
"Saya mau bicara dengan dia."
Utusan itu mengangguk. "Kawanan kami mengizinkan."
Tapi Dewangga, di belakang Maya, berkata pelan—suara yang hanya Maya yang dengar:
"Luna. Itu jebakan. Mereka mengundang kau untuk membunuh kau sebagai balasan."
"Saya tahu."
"Tapi kau tetap mau pergi?"
"Iya. Karena Reno punya jawaban yang Damar butuhkan. Tentang sesuatu yang Reno bilang sebelum pertarungan tadi."
"Apa itu?"
Maya menatap utusan Wijayakusuma. Lalu menjawab Dewangga dengan suara yang juga pelan, supaya utusan tidak dengar:
"Reno bilang dia 'saudara' Damar. Saya rasa itu bohong. Saya rasa dia sesuatu yang lebih—dan kalau dia mati tanpa bicara, jawaban itu hilang selamanya."
Utusan itu menundukkan kepala lebih dalam.
"Luna. Saya tidak tahu apa yang ingin Reno bicarakan. Tapi Reno akan bicara dengan kau. Itu permintaan terakhirnya."
Maya mengangguk.
"Saya pergi besok pagi."
***
Hari ketiga pagi, Damar bangun.
Mata coklatnya membuka pelan. Wajahnya pucat, bibir kering, tapi dia hidup. Dia hidup.
"Maya..."
Maya menangis. Memeluk Damar dengan hati-hati—tubuhnya masih lemah, perban tebal di punggung dan dada.
"Damar. Damar. Kau—"
"Saya di sini."
Mereka berpelukan lama. Lalu Damar bertanya, suaranya parau:
"Reno?"
"Sekarat. Tapi hidup. Damar—saya pergi besok ke markas Wijayakusuma."
"Apa? Maya, tidak—"
"Reno mau bicara. Dia tahu sesuatu, Damar. Saya rasa tentang kau."
"Maya, ini jebakan—"
"Saya tahu. Tapi saya luna sekarang. Dewangga sudah menunjuk saya. Dan saya... punya racun di darah saya. Saya bukan rentan lagi—siapa pun yang menyerang saya, mati dalam dua puluh detik."
Damar menatap Maya dengan mata yang penuh sesuatu—campuran cinta, ketakutan, dan kekaguman yang Maya akan ingat setiap kali dia takut.
"Maya. Saya ikut."
"Damar, kau tidak bisa berdiri—"
"Saya ikut."