Maya tidak ingat persisnya apa yang dia lakukan setelah meminum racun.
Dia ingat berdiri. Dia ingat suara—bukan suaranya—keluar dari mulutnya. Dia ingat Reno mundur, mata Reno yang kuning emas tiba-tiba pucat dari dalam, seolah ada seseorang yang menarik cahaya dari matanya.
Lalu dia ingat menyentuh dada Reno dengan tangan kanannya. Sentuhan ringan—jari-jari yang nyaris tidak menyentuh kemeja hitam Reno.
Dan Reno menjerit.
Bukan jeritan manusia. Bukan jeritan serigala. Jeritan dari sesuatu yang lebih dalam—seperti seseorang yang sudah lama tahu kematian akan datang, lalu akhirnya melihatnya datang.
Reno terjatuh ke lantai marmer yang sudah retak. Tubuhnya bergerak—kejang. Darah emasnya keluar dari mata, dari telinga, dari mulutnya, mengalir ke marmer dan bercampur dengan darah-darah yang sudah ada di sana.
Tapi Reno tidak mati. Belum. Hanya terlalu terluka untuk berdiri. Dada-nya naik turun pendek-pendek, seperti seseorang yang paru-parunya hanya bekerja setengah.
Kawanan Wijayakusuma—yang melihat pemimpin mereka jatuh—mundur. Sebagian melarikan diri lewat pintu hancur ke arah halaman. Sebagian berlutut di lantai, menundukkan kepala, sebuah tindakan yang Maya akan tahu kemudian sebagai tanda menyerah formal.
Maya berbalik ke Damar.
Damar di lantai marmer, pisau perak masih di punggungnya, darah emas di mana-mana. Mata coklatnya setengah tertutup. Wujud serigalanya sudah hilang sepenuhnya—dia kembali ke bentuk manusia, dengan pakaian yang sobek dari transformasi yang dia tidak sempat tahan.
"Damar."
Maya berlutut. Tangannya—yang baru saja membunuh, atau hampir membunuh—sekarang gemetar di pipi Damar.
"Damar, jangan—"
"Maya..."
"Saya di sini."
"Kau... kau aktifkan—"
"Iya."
"Maya..."
Damar tidak bisa lanjut. Tubuhnya berkonvulsi—reaksi pisau perak di darah serigalanya. Pisau perak adalah racun untuk kawanan, Maya akan tahu kemudian. Bahkan untuk alpha sekuat Damar.
Yuni datang berlari dari basement. Bagas mengikuti dengan dua kawanan beta lain—yang Maya tidak kenal namanya, dengan wajah pucat dan luka di lengan dan dahi. Wajah mereka berubah saat mereka melihat lobi.
"Bu Maya—Pak Damar—"
"Yuni. Cabut pisau ini sekarang."
Yuni melihat pisau perak. Wajahnya berubah pucat lagi.
"Bu, perak—itu racun untuk kawanan—"
"Saya tahu. Cabut sekarang. Cepat."
Bagas yang mencabut. Damar menjerit—suara yang Maya tidak pernah dengar di pria itu sebelumnya. Darah emas mengalir lebih deras dari luka, sekarang tanpa pisau yang menahan.
"Yuni, panggil tabib kawanan. Sekarang."
"Sudah, Bu. Lima menit lagi sampai. Saya panggil sebelum Bu naik."
Maya menutup luka Damar dengan baju yang dia robek dari dirinya—baju tidur sutra yang Damar belikan minggu lalu, yang sekarang digunakan sebagai perban darurat di lantai marmer. Tekan keras.
"Damar. Jangan tidur. Damar, lihat saya."
"Maya..."
"Tetap bersama saya, Damar."
Tabib datang sepuluh menit kemudian—bukan dokter rumah sakit, tapi seorang nenek tua dengan ramuan dan jarum perak putih, yang Maya akan tahu adalah perak murni yang dapat menetralkan racun pisau perak biasa. Nenek itu mengusir semua orang dari ruangan dengan otoritas yang membuat bahkan Bagas mundur.
Cuma Maya yang boleh tetap di sebelah Damar.
"Anak," nenek itu berkata pada Maya tanpa menoleh, sambil memeriksa luka Damar. "Tahan tangannya. Jangan biarkan dia bergerak walaupun kesakitan."
Maya menahan tangan Damar. Damar kesakitan—mengerang setiap kali nenek itu menyentuh luka—tapi Maya tidak melepaskan.
Tiga jam kemudian, Damar masih hidup. Tapi dalam koma.
"Tiga hari," nenek itu berkata pada Maya, sambil membersihkan tangan-tangannya yang berlumuran darah emas. "Kalau dia bertahan tiga hari, dia akan sembuh sepenuhnya. Kalau tidak—dia tidak akan bangun lagi. Racun perak sudah merusak organ dalam. Tubuh kawanan kuat, tapi ada batas."
Maya mengangguk. Tidak bisa bicara.
Nenek itu menatap mata Maya—mata yang masih kuning gelap dari aktivasi racun.
"Anak. Kau sekarang... senjata."
"Iya."
"Hati-hati. Jangan sentuh siapa pun yang kau tidak ingin mati. Setidaknya selama enam jam pertama."
"Iya."
Nenek itu pergi. Maya menunggu di samping ranjang Damar—yang dipindahkan ke kamar utama di sayap kiri, kamar yang Maya belum pernah masuki sampai malam itu. Tidak tidur. Tidak makan. Hanya menunggu.
Dan di luar mansion yang hancur, kawanan Pradipta mulai bergerak—bukan untuk menyerang balik, tapi untuk memperbaiki kerusakan, mengubur korban di pekuburan kawanan di Bogor, dan menunggu alpha mereka bangun.
Atau pergi.