"Jadi dia nggak salah ya, Bang?"
"Nggak. Dia punya hak buat suka sama siapa aja yang dia mau."
Obrolan merekaa terjeda karena pesanan mereka datang. Seorang waitress meletakkan kopi dan kue di meja.
"Makasih, Kak," ucap Tanti.
"Iya, sama - sama."
Arman menunggu waitress itu pergi sebelum melanjutkan.
"Kalaupun sahabatnya itu ada duanya," lanjut Arman, "...misalnya kayak aku punya kembaran."
Jantung Tanti langsung berdetak lebih cepat mendengarnya.
"Terus kawanmu itu dikasih versi kembarannya, belum tentu dia mau."
Tanti mengangkat kepala.
"Kenapa?"
"Karena yang dia suka itu orangnya beda. Bukan sekadar tampilannya atau sekadar sifat di atas kertas."
Dada Tanti terasa sedikit lega sebentar. Walau kalimat tadi seperti menyerempet sesuatu yang sedang ia sembunyikan, yaitu soal tok