"De, cerita lah sekarang."
Dede melirik jam dinding kelas.
"Nanti. Sekarang udah mau lonceng."
Tanti langsung cemberut.
"Kenapa pula kau buka topik kalau nggak mau cerita. Kan jadi penasaran aku."
"Sabar," kata Dede sambil menutup tas. "Orang sabar disayang Allah."
"Alasan," gerutu Tanti. "Malas aku."
Bel berbunyi. Guru masuk. Tanti masih memasang wajah sebal, tapi matanya beberapa kali melirik Dede, jelas berharap ada bocoran kecil.
Sepanjang pelajaran, Dede fokus setengah - setengah. Ia sesekali melirik ke arah bangku Arsya. Cowok itu terlihat biasa saja. Tidak murung, tidak gelisah. Seperti orang yang pikirannya sedang tenang.
Dan entah kenapa, itu juga membuat Dede ikut tenang.
Bel istirahat berbunyi. Begitu guru keluar, Tanti langsung berbalik.
"Jadi?" tanyanya cepat.
Dede