"Iya, sebentar aku tanya," kata Tanti. "Tapi tunggu dulu, aku mau tanya lah ke kau dulu."
"Tanya apa?"
"Gimana rasanya berdua tadi," suara Tanti berubah menggoda. "Ada ser - ser nggak? Atau sudah cium - ciuman pula, klean?"
Dede langsung memerah. "Memang kampret lah kau!"
Tanpa menunggu balasan, Dede memutuskan sambungan telepon.
Di kamar Tanti, tawanya pecah tanpa bisa ditahan.
"Hahahaha … kena kan, kau!"
Sementara itu, di rumah Dede, ponsel tergeletak di atas meja. Dede bersandar di sofa, wajahnya hangat bukan karena demam, tapi karena kata - kata barusan. Ia menatap kosong ke televisi yang menyala tanpa suara.
Di kepalanya, bayangan hari itu berputar kembali. Tawa, mobil, obrolan receh, Arsya yang terlalu santai, terlalu dekat daan terlalu nyaman.
Dan entah kenapa, semuanya ter