Kalimat itu menggantung di udara, beberapa detik sunyi.
"Kalo aku jadi cewek itu, nggak akan kumaafkan," kata Yeni lagi.
"Ha itu lah, aku pun nggak mau juga, tapi lebih karena dia tukang dusta, muak kan? Kalo kau karena apanya, Yen?"
"Kalo aku ya dua-duaya, selingkuh iya, drama pun iya. Betul kau bilang tadi, lain dihatinya, lain pula dia perlihatkan ke orang."
"Cocok kita," sahut Tanti cepat.
Sandra tersenyum kaku. Tangannya yang tadi memegang ujung bantal Dede perlahan ditarik.
Arsya menatap Tanti sekilas. Ia tidak sepenuhnya menangkap maksud ucapan itu. Pikirannya terlalu penuh untuk mencerna sindiran. Ia tidak sadar bahwa cerita barusan tidak masuk akal. Ia juga tidak sadar bahwa kalimat itu diarahkan tepat ke orang yang sedang duduk tak jauh darinya.
Dede memilih diam dan tidak