Wajah Tanti muncul, terlihat ceria. Tidak ada bekas emosi, tidak ada tanda habis ribut. Berarti aman.
"Udah mandi, ya?" tanya Tanti.
"Udah mandi, udah sikat gigi, udah skin care-an. Tinggal tunggu cerita kau aja ini sebelum aku tidur," jawab Dede sambil berdiri mematikan lampu utama kamarnya. Ia menyisakan lampu kecil di samping tempat tidur, lalu naik dan bersandar di kepala ranjang.
Tiba - tiba Tanti menyipitkan mata.
"Belum pernah kulihat kalungmu itu. Baru ya?"
Dede spontan menyentuh lehernya.
"Iya. Dibelikan Arsya. Tapi ini dari Jakarta, bukan dari Manchester. Padahal dia sudah banyak kali bawa oleh - oleh dari Manchester, nggak tahu aku kenapa dia harus beli ini lagi di Jakarta."
Tanti tersenyum miring.
"Kenapa ya anak kembar itu random-nya sama."
"Maksudnya?"
"Aku pun dibe