"Enak kali jadi aku," kata Arman.
"Kenapa?"
"Dapat nasi goreng gratis, dapat pangkuan juga."
Tanti menggeleng geli sambil mengelus rambutnya pelan.
Dalam diam itu, Tanti menatap wajah Arman yang tampak lebih tenang dibanding semalam. Ia teringat betapa takutnya ia kehilangan pria itu hanya karena bayangan yang belum tentu benar.
"Bang," panggilnya pelan.
"Hm?"
"Kemarin itu… kita sama - sama salah ya."
Arman membuka mata dan menatapnya dari bawah. "Iya. Aku kurang peka. Kamu kurang tanya."
Tanti mengangguk. "Jangan sampai kejadian lagi."
Arman bangkit sedikit, lalu duduk menghadapnya.
"Nggak akan kalau kita ngomong baik - baik. Jangan simpan sendiri lagi."
Tanti tersenyum. "Iya."
"Eh, nanti kita shopping yuk."
"Abang mau beli apa?"
"Baju kaos sama kemeja buat kuliah. Bajuku k