"Jadi enak," kata Tanti lalu tertawa.
Setelah beberapa saat, Tanti tersenyum sambil masih memeluk leher Arman.
"Sofa abang itu sudah siap jadi kasur darurat," godanya.
Arman menghela napas panjang, pura - pura pasrah. "Iya lah. Nasib tamu tak diundang."
Namun ketika mereka berjalan ke arah kamar, Tanti berhenti di depan pintu, lalu menatap Arman dengan tatapan yang berbeda. Lebih lembut. Lebih terbuka.
"Udahlah," katanya pelan. "Abang nggak usah tidur di sofa, kasihan aku ... berlipat - lipat badan abang, nanti."
Sofa Tanti emang bukan sofa bed, hanya sofa dua dudukan biasa, sudah dipastikan tidak cukup buat badan Arman.
Arman mengernyit. "Hah, maksudnya?"
"Temani aku saja di kamar. Aku lagi nggak mau tidur sendirian."
Ada jeda singkat. Arman menatapnya, memastikan bahwa keputusa