Teleponnya tidak mati. Hanya tidak diangkat, dan itu justru lebih membingungkan.
Terpaksa Arman menelpon Dede untuk mencari tahu. Siapa tahu Tanti mengatakan sesuatu kepadanya.
"Halo, Bang," jawab Dede dari Medan sana. Suaranya terdengar santai.
"Lagi sibuk nggak, De?"
"Nggak, Bang. Abis makan siang."
"Weekend nggak ke mana - mana?"
"Nggak. Capek aku, Bang. Tiap hari ke kampus. Mau siap KKN juga, kan. Abang cemana?"
"Ya sama aja lah. Kadang weekend ini berharga kali, mau tidur - tiduran aja rasanya."
"Nah iya, kan? Eh, ada apa abang nelpon siang - siang gini? Tumben."
Arman menarik napas sebentar sebelum menjawab.
"Aku mau tanya, ada Tanti menelponmu dari kemarin?"
"Tanti? Nggak. Baru aku mau nelpon dia sore nanti. Kenapa rupanya?"
"Dari tadi malam aku nggak bisa telepon dia."