Ia memesan nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi dan ayam goreng. Jarang - jarang ia makan seberat ini saat sarapan, tapi ia takut tubuhnya oleng.
"Sudahlah patah hati, kurang asupan makanan. Apa itu tidak menyedihkan?" gumamnya pelan.
Apalagi ia akan melakukan perjalanan jauh pulang ke Kuala Lumpur. Jangan sampai ia pingsan di bandara.
Ia duduk di meja kecil dan mulai makan.
Walaupun perutnya lapar, ia tidak makan seperti orang kelaparan. Justru kesannya seperti dipaksakan. Ia mengunyah perlahan, seolah makan hanya untuk bertahan. Bukan karena menikmati.
Setiap suapan terasa berat.
Telur mata sapi dan ayam goreng berhasil ia habiskan. Nasinya hanya setengah.
"Itu sudah cukup," katanya pelan.
Setelah itu ia minum obat pereda sakit kepala dengan segelas air putih. Ia berharap p