"Iya."
Kalimat itu menggantung di udara. Tatapan mereka tidak teralihkan.
Perlahan, tanpa banyak kata, Arsya mendekat. Dede tidak mundur. Jarak di antara mereka menghilang. Hidung mereka hampir bersentuhan.
"Sayang," bisik Arsya, suaranya hampir tak terdengar.
"Iya."
Kalimat itu menjadi jawaban untuk segalanya.
Arsya mencium Dede. Awalnya pelan, hanya sentuhan lembut di bibir, seperti memastikan bahwa Dede tidak menolaknya. Seperti bertanya tanpa suara, apakah ini boleh.
Ternyata Dede membalasnya.
Ciuman itu tidak tergesa - gesa dan terburu - buru. Justru lama, dalam dan penuh rasa yang tertahan sejak tadi sore.
Tangan Dede naik, melingkari leher Arsya. Ia menariknya lebih dekat. Arsya membalas dengan memeluk pinggang Dede, membawa tubuh gadis itu semakin rapat ke arahnya. Mereka