"Papa lihat kalian sudah mengarah serius juga," lanjut Papa Kana tenang. "Bukan lagi main - main. Cara kalian jaga sikap, cara kalian bawa mereka ke rumah, papa bisa lihat itu."
Arsya menelan ludah pelan. Ia tahu papanya bukan tipe yang sembarang bicara.
"Tapi hidup ini bukan soal pasangan aja," suara Papa Kana menjadi lebih dalam. "Kalian juga harus memikirkan masa depan. Bang Arman yang mau jadi dokter. Mas Arsya yang katanya mau jadi pengusaha. Kalian harus sampai di tahap itu."
Arman mengangguk pelan. Arsya menunduk sedikit, menyimak.
"Itu juga menunjukkan kalau kalian serius dengan pasangan kalian," lanjut Papa Kana. "Setelah itu kan kalian mau menikah, punya anak, dan hidup nyaman. Dan itu perlu diperjuangkan. Bukan cuma modal cinta sama rindu."
Kata - kata itu tidak keras, tapi