Sampai di kantin, suasananya tidak terlalu ramai. Hanya beberapa meja saja yang terisi, suara tawa da obrolan terdengar sayup karena memang tidak banyak orang.
Belum sempat Dede mencari tempat duduk, sebuah suara memanggilnya.
"Eh, De ..."
Dede menoleh. Rosi duduk di salah satu meja bersama Ricky. Dia melambaikan tangan.
Mau tidak mau Dede datang menghampiri meja mereka, Arsya mengikuti.
"Lho, ngampus, kak Oci?" tanya Dede.
"Mau ambil buku. Kau mau ngapain?"
"Rapat baksos, kak."
Rosi mengangguk. Lalu matanya beralih ke Arsya yang berdiri di samping Dede. Tatapannya meneliti, jelas penasaran.
Ricky juga ikut melihat. Wajah asing, tinggi, postur tegap, bukan tipikal anak fakultas kedokteran yang sering mereka lihat.
Dede menyadari arah pandangan itu. Mau tidak mau, ia harus mengena