Dede terdiam.
"Kamu kan tetap harus balik."
"Iya."
"Kuliah kamu penting."
"Iya, tapi …"
Arsya menarik napas.
"Tapi aku bakal cari cara supaya jaraknya nggak terasa sejauh ini."
Dede menoleh. Ia tahu itu bukan janji kosong. Tapi juga bukan hal yang mudah.
Mereka terus berputar tanpa tujuan jelas. Melewati jalan - jalan yang dulu sering mereka lalui sebagai sahabat.
Tapi sekarang setiap lampu merah terasa lebih intim.
Setiap belokan terasa lebih berarti.
Jam di dashboard menunjukkan pukul 19.27 ketika akhirnya Arsya membelokkan mobil ke arah rumah Dede.
Lampu teras sudah menyala.
Begitu mereka masuk, Mama Indah yang sedang duduk di ruang tengah langsung menoleh.
Dan membeku.
"Mas Arsya?!"
Reaksinya tidak kalah heboh dari Dede tadi di resto.
"Kamu ini dari mana munculnya?!"