Rekaman berhenti.
Dede menatap pesan suara itu cukup lama sebelum akhirnya menekan kirim. Kalimatnya sederhana, to the point, nadanya terdengar seperti membujuk. Ia berharap Arsya mau mendengarnya, tapi yang lebih penting mengikuti sarannya.
Ia meletakkan ponsel di atas tempat tidur lalu duduk di sampingnya.
"Memangnya mau ngapain dia ke sini cuma mau ketemu aku? Ck … kan semuanya bisa lewat hape aja. Sudah kebanyakan duit dia, seenaknya bolak - balik," gumamnya.
Namun gumaman itu tidak sepenuhnya jujur.
Ada bagian kecil dalam hatinya yang hangat. Bayangan Arsya turun dari pesawat, berdiri di hadapannya, menatapnya langsung bukan lewat layar membuat dadanya bergetar aneh.
Ia menghela napas panjang.
"Arsya … Arsya … ada aja sih kelakuanmu itu," ucapnya pelan sebelum berjalan ke kamar