Tanti tertawa puas. "Itu tujuan utamanya."
"Kejam kali kau."
"Katanya aku calon kakak ipar," balas Tanti cepat.
Arsya memutar bola mata. "Belum tentu."
"Eh kok kau malah bilang gitu, nggak jadilah ku bantu, malas, aku."
"Ckk ... iya .. iya."
Arsya menghela napas panjang sekali lagi, lalu menatap layar dengan ekspresi campur aduk antara kesal, malu, dan tekad.
"Kalau nanti dia balikan sama Valen, aku salahkan kalian."
"Kalau dia jadi sama kau, jangan lupa traktir kami," sahut Arman.
Panggilan itu akhirnya berakhir.
Arsya menatap ponselnya yang kini gelap.
Di dalam dadanya, ada panas yang belum padam.
Dan di Medan, tanpa Dede tahu, namanya baru saja disebut berkali - kali dengan nada cemburu, takut, dan tekad yang mulai tumbuh lebih serius dari sebelumnya.
---
Pagi itu rumah ke