"Kenapa sih kamu jadi begini sekarang, Sya?" gumamnya pelan.
Angin dari AC yang mengarah ke bunga itu, menggerakkan sedikit kelopak bunga. Dede berdiri, mematikan lampu meja, lalu kembali ke tempat tidur.
Ia memeluk bantalnya, menatap layar ponsel sebentar. Tidak ada pesan baru dari Arsya.
Entah kenapa, ada rasa kecewa kecil di sana.
"Ckk … kenapa sih aku ini," desahnya.
Ia memejamkan mata, tapi sebelum benar - benar terlelap, satu pikiran terakhir muncul di kepalanya.
Kalau benar ini bukan prank…
Kalau benar dia serius
Apa aku berani pacaran sama playboy Medan?
----
Manchester sore itu kelabu di kepala Arsya.
Sebenarnya langitnya tidak benar - benar gelap, walau juga tidak terang - terang amat. Awan putih memang menggantung rendah, menambah berat suasana hati Arsya.
Arsya dud