Tapi tetap saja, rasa bingung itu tidak bisa diusir.
Respons Dede terlalu normal untuk disebut menolak, tapi terlalu datar untuk disebut menerima.
Arsya menghela napas panjang.
"Kalau kamu biasa aja gini, aku yang jadi serba salah, De."
Ia menutup ponselnya pelan, masih belum tahu harus maju, menunggu, atau justru menahan diri lebih jauh.
Yang jelas, perasaan senangnya perlahan bercampur tanda tanya.
--
Batas waktu Arsya sebenarnya tidak lama. Ada rasa tidak sabar yang terus menekan dadanya, dorongan kuat untuk segera menyatakan perasaan pada Dede. Bukan apa - apa, hanya saja dari sekian banyak rencana yang sudah ia susun rapi di kepalanya, semuanya seperti berantakan karena respons Dede selama ini tidak pernah sesuai harapannya. Terlalu datar dan terlalu seperti sahabat.
Sampai ak