"Malas aku sama Tanti ini," keluh Arsya.
"O … gitu kau ya?" balas Tanti. "Aku ingat baek - baek ini. Awas aja kau nanti nelpon aku minta tolong."
"Nggak ada aku minta tolong," jawab Arsya percaya diri.
"Abang jadi saksi ya, kalau ada Arsya nelpon aku minta tolong, aku reject!"
Setelah panggilan itu berakhir, Arsya menatap layar ponselnya lama. Senyum kecil kembali muncul di wajahnya. Semua ini terasa sederhana, bahkan agak konyol, tapi justru di situlah ia menemukan harapan.
Bunga.
Langkah kecil.
Tapi cukup untuk membuka kembali jalan yang sempat tertutup.
Dan kali ini, Arsya berniat berjalan pelan - pelan, tanpa tergesa atau drama yang tidak perlu asal menuju orang yang sama.
Setelah rencana itu tersusun rapi di kepalanya, Arsya justru mulai berhadapan dengan hal - hal yang tidak