Kalimatnya ringkas, tanpa emosi berlebihan. Seolah semua sudah selesai diceritakan dan tidak perlu diulang - ulang lagi.
Arman tersenyum kecil. Ada rasa lega yang tidak ia tutupi. "Syukurlah," katanya. "Berarti satu persoalan sudah beres."
Sepanjang pembicaraan itu, Dede memilih diam. Tatapannya jatuh ke piring, mendengarkan tanpa menyela. Apa yang disampaikan Tanti sudah mencakup semuanya, lengkap, tanpa kurang satu apa pun. Tidak ada celah untuk menyangkal, tidak ada alasan untuk berkilah. Dan justru itu yang membuat dadanya terasa semakin berat.
Tanti melirik Dede sekilas, lalu kembali menatap Arman. Senyum usil perlahan muncul di wajahnya.
"Jadi," katanya sambil mengambil potongan lauk untuk diletakkan diatas nasi di piringnya, "... kita tunggu aja lah ya, Bang. Ada yang mau minta