Tanti mencibir. "Kek pake duitmu aja. Kalo nggak duit papa mamamu, pasti duit Arsya."
"Sok tahu," dengus Dede. Ia mengambil bantal, memeluknya sebentar, lalu melemparkannya ke arah Tanti. Tanti refleks menangkap dan tertawa kecil, lalu meletakkan lagi gulingnya disamping Dede.
Tanti kemudian duduk di kursi dekat meja rias. Matanya memperhatikan Dede dari ujung kepala sampai ujung kaki, lama, seperti sedang menimbang sesuatu. "Rambutmu panjang kali sekarang," komentarnya. "Kelihatan semrawut."
"Kek kau makin rapi aja," sahut Dede. "Kau pun beda kali sekarang." Ia menyipitkan mata. "Aura Kuala Lumpur atau oppa Korea, ini?"
Tanti terkekeh. "Aura Arman Mahendra nggak?"
"Mana ada. Yang ada kek ulat nangka ku lihat," jawab Dede datar.
Tanti tertawa, lalu bersandar ke sandaran kursi. "Aku