"Istirahatlah. Kamu kelihatan capek," kata Arman pelan. "Jangan banyak pikiran lagi."
Dede mengangguk kecil.
"Iya, Bang. Makasih."
Ia membuka pintu mobil, turun, lalu menutupnya pelan. Mobil Arman masih menunggu sampai Dede masuk baru ia meninggalkan pagar rumah Dede.
Di dalam kamarnya kata - kata Arman terus berputar di kepalanya.
"Aku sangat yakin Arsya nggak tahu."
Keyakinan itu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman. Bukan karena ia langsung percaya, tapi karena prasangka yang selama ini ia pegang mulai retak.
Selama ini, rasanya lebih mudah menyalahkan Arsya. Lebih pas dan terasa lebih masuk akal. Ada alasannya, ada urutan, ada logika yang bisa ia pegang agar dugaannya punya arah. Tapi sekarang, logika itu tidak lagi berdiri tegak.
Dede berhenti di depan cermin di kamarnya i