Ia teringat wajah Dede di Amsterdam.
Tenang.
Tapi tenang yang bukan damai, malah menyimpan banyak kelelahan
Baru sekarang Arsya merasa benar - benar takut.
Bukan takut harga dirinya runtuh, tapi takut kehilangan kesempatan bersama Dede.
Ia mengambil ponsel lagi, membuka kontak Tanti.
Maksudnya hendak curhat kepada sahabatnya dan Dede itu. Tapi diurungkannya mengingat Tanti sedang liburan sama abangnya dan juga Zaya, adik sepupu mereka. Arsya tidak ingin mengganggu liburan mereka.
Arsya menghela napas, lalu meletakkan ponsel kembali ke meja. Ia sadar, apa pun yang ia lakukan sekarang akan terdengar salah. Mungkin malah terdengar terlalu membela diri.
Semua pilihan terasa salah sekarang.
Ia berjalan ke kamar, duduk di tepi ranjang dan mengedarkan pandangan. Pandangannya kosong. Ars