Di sebuah toko jam tangan mewah, Papa Sapta sempat berkomentar, "Cocok tuh buat kamu, Sya."
Arsya tersenyum. "Nanti aja, Om."
Dede berdiri di sisi lain etalase, pura - pura tertarik pada sesuatu yang lain.
Makan malam di restoran Michelin berjalan elegan. Lampu temaram, suara gelas beradu pelan. Arsya duduk berhadapan dengan Dede. Beberapa kali mata mereka bertemu, lalu sama - sama mengalihkan pandangan.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada pembahasan.
Hanya jarak yang semakin nyata.
Tiga hari berlalu dengan pola yang sama. Semua berjalan indah di permukaan. Foto keluarga mereka tampak sempurna. Senyum terjaga.
Sampai akhirnya hari kepulangan mulai terbagi.
Arsya harus kembali ke Manchester lebih dulu. Ada urusan kampus yang tidak bisa ditunda. Penerbangannya pagi. Sementara orang t