Di dalam pesawat, Arsya memperhatikan Dede dari samping. Dede terlihat lebih banyak melamun daripada biasanya. Tatapannya kosong, sesekali menutup mata, lalu membuka kembali seperti sedang melawan pikirannya sendiri. Arsya tidak mengajaknya bicara terlalu banyak. Ia hanya memastikan sabuk pengaman terpasang.
Beberapa saat setelah lepas landas, Dede memecah keheningan.
"Paris itu dingin nggak sekarang?"
"Nggak sedingin London atau Edinburgh," jawab Arsya. "Masih enak buat jalan kaki."
"Oh."
Satu kata itu kembali menggantung di antara mereka. Namun bagi Arsya, itu sudah cukup. Dede masih mau bertanya, berarti ia masih mau hadir.
Sekitar satu jam lebih setelah lepas landas, pesawat mulai menurunkan ketinggian. Dari jendela, Paris terlihat dengan cahaya sore yang lembut. Bangunan - bang