"Itu dia. Dari tadi kepalaku mutar ke situ aja."
Bel masuk kembali berbunyi. Arsya dan teman - temannya masuk kelas, tapi Arsya tidak menoleh ke arah Dede sama sekali. Kali ini justru Dede yang memperhatikannya.
"Kenapa kau lihat dia gitu kali?" bisik Tanti.
"Apa dia yang ngomong ya?"
"Ngomong apa?"
"Semalam dia nelpon aku. Maksa mau antar aku latihan besok. Sabtu juga katanya mau jemput," jawab Dede dengan berbisik juga.
"Terus?"
"Aku bilang nggak mau karena aku mau pulang sama Bang Tama."
Tanti menoleh pelan. "Dan dia punya akses ke Mamamu."
Dede mengangguk.
"Udahlah, sah kali dia orangnya. Cuma dia yang bisa jalur VIP ke mamamu."
"Kenapa dia begitu? Aku sudah jelas - jelas bilang nggak mau dia antar, kok."
"Kau suruh aja urus pacarnya."
"Sudah."
"Apa kau bilang?"
"Aku bil