Padahal hari ini bukan acara formal.
Setelah sarapan, ia akan langsung menuju bandara. Mobil sewaan sudah siap, lengkap dengan sopir yang akan menemaninya selama dua hari di London.
Semakin dekat waktu kedatangan rombongan, semakin gelisah Arsya. Tangannya berkali - kali mengecek ponsel, bukan untuk melihat pesan orang tuanya, tapi memastikan jam.
Yang ia pikirkan justru satu hal.
Bagaimana harus bersikap di depan Dede?
Apakah ia harus bersikap biasa saja seperti dulu? Atau sedikit menjaga jarak? Atau justru bersikap lebih hangat?
Ia takut salah langkah. Takut tatapannya terlalu lama. Takut nadanya terlalu lembut. Takut Dede menyadari sesuatu yang bahkan belum sempat ia ucapkan.
Sementara itu, jauh di atas langit Eropa, di dalam pesawat yang menuju London, Dede baru saja selesai sar