Arman terkekeh kecil.
"Udah betul lah itu," katanya kemudian, lebih serius. "Buat apa diperpanjang kalau nggak ada masa depannya. Umurmu juga sudah kepala dua. Walaupun nggak ada yang mau kawin muda, tapi setidaknya sudah mikir serius. Kalau nggak, ya cuma buang - buang waktu."
Dede terdiam sejenak. "Ya, tapi ngaget - ngagetin aja, Bang. Mamaku tahu sore itu, malamnya langsung ngomong dan nyuruh aku putus. Mana cuma ngasih waktu satu kali dua puluh empat jam pula. Kayak enak kali mutusin orang begitu aja."
"Jadi maksudnya kamu nggak terima?"
"Bukannya nggak terima. Tepatnya belum terima."
"Ya udahlah. Sekarang kan sudah kejadian. Sudah mau liburan, bawa senang - senang aja."
Dede menatap Arman lama, lalu berkata setengah bercanda, setengah serius, "Enaknya aku ikut kalian aja ke Kore