Valen masih belum selesai makan ketika Dede menarik napas panjang.
"Bang..." panggil Dede pelan.
"Ya?"
"Kita ketahuan."
Kalimat itu terdengar datar, tapi justru itulah yang membuatnya berat.
"Ketahuan apa maksudnya?" tanya Valen, alisnya mengait.
"Mamaku tahu kita beda."
Valen langsung menghela napas panjang. Dadanya terasa turun.
"Siapa yang bilang?"
Dede terdiam sebentar. Ia sedang berpikir, menimbang - nimbang kata.
"Sementara tersangkanya ... Arsya."
"Arsya?" Valen menatapnya tajam.
Dede mengangguk.
"Kemarin seharian dia coba nelpon aku tapi nggak bisa. Terus sorenya dia nelpon mamaku."
Saat itu Valen baru benar - benar mengerti kenapa kemarin sama sekali tidak ada panggilan video dari Arsya. Bukan karena Arsya sibuk, tapi karena Dede yang sengaja membatasi.
"Jadi maksud