Dede menyandarkan punggung ke dinding. "Anggap aja begitu lah."
"De," suara Arsya mulai naik. "Kok kamu gitu?"
"Gitu kenapa?" tanya Dede datar. "Paling nggak dia nggak akan seenaknya membatalkan janji mau ngantar aku pulang. Kan kami sama - sama latihan disana."
Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa niat menusuk. Tapi di seberang sana, Arsya terdiam.
Ia tidak menyadari bahwa ia pernah melakukan hal itu. Dua minggu lalu, janji menjemput Dede ia batalkan sepihak, tanpa penjelasan panjang dan Dede harus menerima.
"Jangan - jangan kamu pacaran ya sama dia?" tanya Arsya kemudian, mencoba menutup rasa tidak nyaman dengan nada bercanda.
Dede tertawa kecil. "Terserahmu aja lah mau bilang apa."
"Serius aku nanya," sahut Arsya.
"Serius apa bercanda pun jawabanku sama," balas Dede.
Beberap