"Iya, Dede … iya … ikhlas aku"
Percakapan mereka mengalir ringan. Tidak ada yang ditahan atau yang dibuat - buat. Mereka menemani Tama sampai nasi di piringnya habis, lalu bangkit hampir bersamaan.
Mereka berjalan keluar dari kantin bertiga, masih saling bercanda. Dede berjalan di tengah, Tama di sebelahnya, Tanti sedikit di belakang.
Namun, semua gerak - gerik itu tidak lepas dari sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan.
Arsya duduk di meja gengnya. Tangannya memegang gelas minum, tapi ia tidak benar - benar minum. Pandangannya tertuju lurus ke arah pintu kantin. Ke arah Dede yang tertawa lepas, ke arah Tama yang berdiri terlalu dekat, juga ke arah Tanti yang ikut tersenyum.
"Kenapa kau bengong, Sya?" tanya Opung.
"Nggak kenapa - kenapa," jawab Arsya cepat.
Opung