Tangannya gemetar saat meraih ponsel dari saku hoodie.
Arsya.
Nama itu langsung muncul di kepalanya.
"Arsya kampret!" umpatnya Dede geram. "Kenapa sih bisamu cuma ngadu ke Mamaku?"
Ia berjalan mondar - mandir di kamar. Langkahnya tidak beraturan. Otaknya dipenuhi potongan - potongan kejadian hari ini. Telepon Arsya yang tidak diangkat hari ini. Dede langsung membayangkan Arsya menelpon mamanya seperti yang papanya bilang tadi, lalu mulai membahas soal Valen dan mengatakan soal itu.
"Arsya sialan!"
"Makanya tiba - tiba nelpon. Makanya mendadak bahas liburan. Jadi ini maksudnya?" suara Dede bergetar, lebih kepada dirinya sendiri.
Ia duduk di tepi kasur, menatap layar ponselnya yang gelap. Tangannya mengepal.
"Kalau memang mau nusuk, kenapa harus dari belakang sih, Sya?" ucapnya lirih