Dede.
Nama itu kini terasa lebih berat di dadanya.
Arsya menyandarkan punggung ke dinding, menutup matanya sesaat. Ingatannya melayang ke masa lalu lagi, ke hari - hari di mana mereka bertiga, ia, Dede, dan Bang Arman, sebelum hadirnya Tanti. Mereka main sama - sama, liburan pun sama - sama, tertawa tanpa beban, sampai ia terbayang juga di mana Dede adalah tempat yang paling aman untuk pulang setelah berpetualang, tanpa pernah ia sadari waktu itu.
"Dulu kenapa aku nggak ngerasa kek gini, ya?" tanyanya dalam hati.
Jawabannya datang pelan, menyakitkan, tapi jujur.
Karena dulu ia tidak pernah takut kehilangan, Ia yakin Dede akan selalu ada di dekatnya.
Dulu Dede selalu ada dalam keadaan apapun juga, tanpa pacar yang harus dibagi waktu, atau jarak benua seperti sekarang, dan yang paling